Kamis, November 1

24 jam tanpa operator dan bebas pulsa

Bayangkan bila pada saat kita berdoa dan
mendengar ini:

"Terima kasih, Anda telah menghubungi
Rumah Allah ".
Pilihlah salah satu:
* Tekan 1 untuk 'meminta'.
* Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'.
* Tekan 3 untuk 'mengeluh'.
* Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'."

At au, bagaimana jika Malaikat memohon
maaf seperti ini: "Saat ini semua
malaikat sedang membantu pelanggan lain.
Tetaplah menunggu. Panggilan Anda akan
dijawab berdasark! an urutannya."
Bisak ah Anda bayangkan bila pada saat
berdoa, Anda mendapat respons seperti ini:

"Jika Anda mau bicara dengan Malaikat
Jibril, tekan 1.
Dengan Malaikat Mikail, tekan 2.
Dengan malaikat lainnya, tekan 3.
Jika Anda ingin mendengar sari tilawah
saat Anda menunggu, tekan 4.
"Untuk jawaban pertanyaan tentang
hakekat surga & neraka, silahkan tunggu
sampai Anda tiba disini!!"

Ata u bisa juga Anda mendengar ini :
"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda
telah satu kali menelpon hari ini,
Silakan mencoba kembali esok hari."
"Kantor ini ditutup pada akhir minggu.
Silakan menelpon kembali hari Senin
setelah pukul 9 pagi."
Alhamdulil lah, Allah SWT mengasihi kita,
Anda dapat menelponNya setiap saat!!!

Anda hanya perlu untuk memanggilnya
kapa n saja dan Dia mendengar Anda.
Karena bila memanggil Allah, Anda tidak
akan pernah mendapat nada sibuk.
Allah menerima setiap panggilan dan
mengetahui siapa pemanggilnya secara
pribadi.
Ketika Anda memanggil, gunakan nomor
utama ini: 24434
2 : shalat Subuh
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya

Atau untuk lebih lengkapnya lebih banyak
kemashlaha tannya, gunakan nomor ini :
28443483
2 : shalat Subuh
8 : Shalat Dhuha
4 : shalat Zuhur
4 : shalat Ashar
3 : shalat Maghrib
4 : shalat Isya
8 : Shalat Lail ( tahajjut )
3 : Shalat Witir

Info selengkapnya ada di Buku Telepon
berjudul "Al Qur'anul Karim & Hadist Rasul"
Langsung kontak, tanpa Operator tanpa
Perantara, tanpa biaya.
Nomor 24434 dan 28443483 ini memiliki
jumlah saluran hunting yang tak terbatas
dan seluruhnya buka 24 jam sehari
7 hari seminggu
365 hari setahun !!.

Sebarkan informasi ini kepada
orang-oran g disekeliling kita.

Mana tahu mungkin mereka sedang
membutuhka nnya
7 Kali! mah ALLAH

Sabda Rasulullah S.A.W : " Barang siapa
hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia
di sisi Allah dan Malaikat serta
diampuni dosa-dosanya walau sebanyak
buih laut "

1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap
hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap
selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap Astaghfirullah jika lidah
terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap Insya-Allah jika
merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap "La haula wala kuwwata illa
billah" jika menghadapi sesuatu tak
disukai dan tak diingini.
6. Mengucap "inna lillahi wa inna ilaihi
rajiun" jika menghadapi dan menerima
musibah.
7. Mengucap "La ilaha illa Allah
Muhammad Rasulullah" sepanjang siang dan
malam sehingga tak terpisah dari lidahnya .

Dari tafsir hanafi, mudah-mudahan ingat,
walau lambat-lambat mudah-mudahan
selalu dalam lindungan Alloh Swt.

Jumat, Oktober 19

Selamat Idul Fitri*

Selamat Idul Fitri, Mata
maafkanlah aku
selama ini kurabunkan fitrahmu
memakaimu melihat yang hanya sekehendakku

Selamat Idul Fitri, Mulut
maafkanlah aku
selama ini kugagukan fitrahmu
menggeragas dan menyerapah apa saja seenak mauku

Selamat Idul Fitri, Tangan
maafkanlah aku
selama ini kutekuk-tekuk fitrahmu
menggenggam dan mengambil apa apa senyaman inginku

Selamat Idul Fitri, Perut
maafkanlah aku
selama ini kugiling-giling fitrahmu
memasukbenamkan apa saja yang nikmat buatku

Selamat Idul Fitri, Kaki
maafkanlah aku
selama ini kuinjak-injak fitrahmu
menyepak dan mengangkangi banyak kehadiran yang sebenarnya kau rindukan

Selamat Idul Fitri, Rambut
maafkanlah aku
selama ini kuguntingi fitrahmu
kujadikan mahkota dunia yang rapuh, ketombean, dan bercabang

Selamat Idul Fitri, Telinga
maafkanlah aku
selama ini kubisingi fitramu
kucucuki kamu dengan suara tak merdu
padahal kau tak nyaman dengan nada sumbang dan kasar, bukan?

Selamat Idul Fitri, Tubuh, Jiwa, Pikiran
maafkanlah aku
selama ini kuperkosa kamu semua tak henti
padahal kalian begitu baik—aku saja yang tak tahu diri, bukan?

1428 H

*) dengan ingatan terhadap sebuah sajak berjudul sama karya Mustofa Bisri

Postscript:

Semua dimaafkan. Maaf lahirbatih. Maafkan saya yang banyak lupa, lena, lelah, abai, ingkar, benci, marah, khilaf, (sok) sibuk-keren-cakep. Taqobalallahuminnawaminkum. Selamat Idulfitri :D

Kamis, September 27

PERSAHABATAN

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.

Dan dia? menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam? persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.

Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika? kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.

Jumat, September 14

Sepenggal Kisah Dari Jayagiri

“CUY, iraha atuh ka leuweung deui teh? “

Iraha nya, masalahna urang urang teh asa saribuk pisan.

Bisa diatur lah mun urang mah, ngan teuing tah jelema nu dua deui mah, ente ngomong lah ka jelema nu dua eta, percaya lah urang ka ente mah, ente kan bisa meyakinkan lamun ngobrol jeung nu dua eta mah, mun urang nu ngomong teh tara dianggap serius euy, apal meureun tungtungna pasti ngan jadi wacana deui wacana deui.

“Sabenerna mah lain mun maneh hungkul ngobrol jeung salah sahiji nu dua eta, tapi tiap ngumpul opatan ge pasti we mun ngobrolkeun rencana ka leuweung teh pasti ngan saukur jadi wacana hungkul.

Heueuh nya mun dipikir pikir mah, nggeus we atuh urang duaan lah ka leuweungna, ribet jeung nu dua deui mah, kumaha?”

Tah mun kitu urang satuju, daripada miceun waktu jeung tanaga ngobrolkeun nu teu puguh jadi jeung jelema nu dua deui mah mending urang duaan we lah, hayu atuh, iraha maneh bisana? kamana ieu teh ngomong ngomong?

Ka jayagiri we nu deukeut, poe saptu kumaha? tapi ngomong ngomong rek meuting atawa pepe? lamun meuting tong poe saptu inditna soalna urang poe mingguna aya acara, kumaha?”

Nya nggeus we indit poe juma’ah, tapi rek indit beres juma’ahan atawa sorena?”

Indit peutingna we atuh, kumaha? pan resep tah mun indit peuting mah, asa menantang, urang duaan kan geus lila teu ka jayagirina jadi pasti pangling jeung kaayaan nu ayeuna mah komo deui ditambah peuting pan jadi seru tah.

Heueuh bener, satuju urang, indit peuting jam sabaraha? rek janjian dimana? atawa urang ka imah maneh we atuh nya, jadi indit bareng kitu?”

Heueuh kitu we, terserah ente rek jam sabaraha ka imah urang, ari angkot mah nepi peuting ge aya keneh ka lembang mah.

Bada Isya lah urang ka imah maneh nya.

Akhirna, jadi oge urang ka leuweung teh, lain nanaon euy urang geus teu kuat hayang ningali nu hejo hejo deui, rieut yeuh di kota wae mah, pusing pusing, pan butuh represing atuh urang teh.

***

TIGA puluh satu agustus dua ribu tujuh menjadi hari yang akan selalu kami ingat bersama. Malam itu pukul sepuluh kurang lima belas menit kami berangkat menggunakan angkutan kota jurusan leuwi panjang kebon kalapa dari terminal leuwi panjang. Lima ribu rupiah ongkos untuk dua orang hingga kebon kalapa, disambung dengan angkutan kota jurusan kebon kalapa ledeng dengan tarif enam ribu rupiah untuk dua orang hingga terminal ledeng. Dari situ kami naik angkutan kota menuju lembang dengan biaya enam ribu rupiah untuk dua orang. Tiba di lembang kira kira pukul sebelas malam dan kami lanjutkan berjalan menuju pos pendakian. Sesampainya di pos pendakian kami langsung menyiapkan senter sebagai alat penunjang agar kami dapat lebih mudah melihat medan yang akan kami daki. Baru berjalan lima belas menit, aku merasa seperti sudah lari marathon saja, ya, nafasku tersenggal senggal ditambah kucuran keringat yang tak kunjung berhenti membasahi tubuhku. Melihat keadaanku, sahabatku menganjurkan agar kami istirahat dulu saja, tak perlu dipaksakan ujarnya. Payah memang kalau dipikir pikir, masa baru segitu saja sudah repot. Kuakui jika aku jarang berolahraga ditambah kebiasaan burukku yang belum bisa kutinggalkan, ya, jarang olahraga ditambah sering merokok mungkin itulah penyebab apa yang membuatku seperti itu. Setelah bisa menyesuaikan kembali irama nafasku, ditambah beberapa kali menengguk air matang yang sengaja kami bawa sebagai persediaan di perjalanan, kami melanjutkan petualangan kami. Kuhitung mungkin ada tiga kali kami berhenti untuk sekedar mengatur irama nafas dan melemaskan otot otot kaki. Jalur pendakian jayagiri memang terhitung pendek namun karena medannya yang terus menanjak menjadi hambatan tersendiri terutama buatku, maklum saja aku memang lemah untuk medan seperti itu, berbeda jika medannya landai, sejauh apa pun aku cenderung kuat melaluinya (ah, ripuh mah nya ripuh we atuh, ulah sok neangan alesan).

Kira kira pukul satu pagi kami tiba di puncak jayagiri atau yang sering disebut sebagai warung abah, disebut begitu karena beberapa meter sebelum puncak terdapat warung yang tentu saja penghuninya akrab dipanggil abah (meureun eta ge, da teu apal aing mah naha beut disebut kitu). Tanpa menunggu lama kami langsung memasak air untuk membuat racikan kopi, minuman pemersatu para petualang, kenapa kusebut demikian karena menurutku kopi adalah teman setia dalam obrolan (komo deui mun aya ududna mah, leuwih meded deui mun aya cemilan, leuwih najong deui mun aya dahareun, ah bebas teuing sia mah) terlebih dalam suasana di alam terbuka. Tanpa perlindungan tenda, kami coba untuk menikmati alam sekitar kami. Memang sih tidak sefti prosedur tapi mau bagaimana lagi soalnya persiapan kami juga mendadak sehingga tidak sempat untuk meminjam tenda (pangpangna mah rusuh jeung nekat da geus teu kuat hayang leuleuweungan tea jadi pokona mah indit we meskipun persiapana kurang, engke nya kumaha engke we, teu meunang kitu sih sabenerna mah, nya mudah mudahan leuleuweungan deui nu engke mah rada bisa priper). Pagi itu kami sepakat untuk tidak tidur hingga matahari terbit. Entah sudah tiga gelas kopi atau bahkan lebih ditambah cemilan berupa kacang sukro dan kue kreker pleus udud kretek si hejo (ngahaja teu nyebut merek soalna bisi mejarkeun promosi jeung nu pastina geus ngarti meureun merek naon eta teh) yang sengaja kami bawa dari rumah sebagai bahan bakar selama kami di jayagiri (sabenerna eta kabeh teh lain bahan logistik nu kudu dibawa mun leuleuwengan sih, tapi da boga duitna ngan saukur bisa meuli nukitu, nya nikmati we). Selama begadang kami banyak berbicara dari hati ke hati alias curhat, membicarakan yang telah lalu, saat sekarang, dan tentu saja rencana ke depan dalam hidup ini. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat hingga kami tak menyadari munculnya warna kuning kemerah merahan terlihat di sebelah timur puncak jayagiri. Ya, sang raja hari mulai menampakkan dirinya. Kami pun bergantian mengambil air wudhu di sumber air yang tak jauh dari tempat kami menggelar lapak di sekitar puncak jayagiri. Setelah selesai menunaikan Shalat Shubuh, ritual narsis pun dimulai. Dengan kamera dijital yang kubawa ditambah fasilitas kamera yang terdapat di henpun sahabatku kami mulai memotret diri kami secara bergantian dengan latar keindahan alam jayagiri. Kini bentuk sang raja hari sudah benar benar tampak dengan sempurna. Cahaya hangat pun mulai menyinari tubuh kami, seakan lupa akan hawa dingin semalam yang kami rasakan begitu menggigit hingga mencengkram tulang di tubuh kami. Cukup lama kami hanya bisa terdiam seraya terus memuji dalam hati kami masing masing kebesaran Rabb Semesta Alam atas kesempatan yang diberikanNya pada kami untuk bisa menyaksikan keindahan fenomena pergantian hari pada saat itu.

Sungguh tolol jika ada manusia yang tidak merasa betapa kecil dan lemah dirinya setelah melihat tanda tanda kebesaran Sang Khalik, tanda tanda yang begitu terhampar di bumi ini. Bahkan setelah kurenungi kembali apa yang telah kulakukan tadi malam, aku tersadar begitu banyak hikmah yang dapat kupetik dari pendakianku ini. Betapa tidak, sebelum aku melakukan pendakian, aku harus merencanakan dengan matang perlengkapan yang akan kubawa untuk melakukan pendakian. Dari mulai pakaian yang kupakai tentu saja aku akan memakai pakaian yang dapat mendukung untuk berkegiatan di alam terbuka, bukan pakaian yang digunakan untuk pergi ke kantor. Belum lagi peralatan penunjang lainnya, hikmah yang dapat diambil yaitu dalam menjalani hidup ini kita tentu harus menyiapkan segala sesuatunya jika kita ingin nyaman di tempat tujuan kita nanti. Jika kita ingin ke surga ya kita persiapkan segala sesuatunya agar kita bisa masuk surga, kalau kita ingin ke neraka ya kita persiapkan segala sesuatunya agar kita bisa masuk neraka (tapi maenya we jelema hayang asup ka naraka, amit amit atuh). Pada dasarnya jika persiapan kita tidak matang, maka bukannya mendapatkan kebahagiaan malah merasakan penderitaan.

Itu yang pertama, yang kedua ketika aku mendaki terasa bahwa jalan yang kulalui adalah jalan yang terjal, jalan menanjak, jalan dengan bahaya selalu mengintaiku jika aku tidak hati hati. Tapi meskipun demikian aku harus dapat melaluinya, aku tidak boleh menyerah, lebih baik menjalaninya dengan perlahan tapi pasti ketimbang terburu buru yang malah menimbulkan kecelakaan, atau mungkin biar ga repot aku sewa saja helikopter untuk mengantarkanku ke puncak. Ada yang bilang kalau tujuan bukan utama, tapi yang utama adalah prosesnya. Percuma dong naik gunung tapi menggunakan helikopter, dimana esensinya?, dimana seninya?, dimana perjuangannya?

Itu yang kedua, yang ketiga yang kurasakan selama naik gunung adalah kedinginan, makan seadanya, tidur apalagi tidak nyaman. Hikmah yang dapat diambil yaitu aku dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang orang yang tidak memiliki fasilitas seperti orang kebanyakan, seperi mereka yang hidup di jalan. Setiap harinya mereka hanya tidur di pinggir jalan dengan beralaskan kardus bekas atau bahkan tanpa alas, tanpa pelindung dari angin malam yang begitu menggigit, tanpa pelindung jika hujan turun. Mereka juga tidak makan dengan nilai gizi yang proporsional, mereka makan seadanya, sedapatnya, dan tentu saja tidak teratur, kadang hari ini bisa makan, kadang esoknya harus menahan lapar. Aku selalu tidak habis pikir jika melihat orang orang yang dengan sengajanya membuang makanan yang mereka makan alias tidak menghabiskannya. Tidak terpikirkah ketika mereka makan, banyak orang orang yang tidak bisa makan. Tidak terpikirkah ketika mereka membuang makanan mereka, makanan itu begitu berarti untuk mereka yang kelaparan. Dimana nurani mereka? Dengan alasan bahwa makanan yang mereka makan tidak enak pun seharusnya mereka bersyukur mereka dapat makan, dan asal tahu saja untuk mereka yang kelaparan, makanan yang menurut kita tidak enak pun pasti mereka akan makan. Karena apa, karena mereka lapar, mereka tidak pernah mempertanyakan makanan itu enak atau tidak, yang penting rasa lapar mereka bisa terhapuskan. Pada dasarnya kita harus pandai bersyukur dengan apa yang kita miliki karena belum tentu orang lain memiliki apa yang kita miliki. Jangan selalu mendongak ke atas dengan dalih yang lain juga makmur maka kita juga harus makmur. Mending kalau dengan kemakmuran itu kita bisa berbagi dengan orang lain, kalau hanya untuk kepuasan sendiri sih rujit atuh kalakuan siga kitu mah (ngarti rujit teu? bayangkeun we tai atuh, jadi jelema nu rujit kalakuanana teh berarti siga tai nyaho). Seharusnya kita jangan melulu melihat ke atas tapi selalu melihat ke bawah, selalu mengulurkan tangan kita untuk membantu mereka yang membutuhkan tanpa harus diminta. Jika kita bisa merasakan kesusahan orang lain berarti kita bisa berempati kepada orang lain dan tentunya kita akan mengusahakan untuk meringankan kesusahan orang lain tersebut.

Aku jadi teringat matahari, dia menyinari tanpa kita memintanya, dengan sinarnya maka tumbuhan pun dapat berfotosintesis sehingga tumbuhan dapat menghasilkan makanan untuk dirinya tumbuh dan berkembang menghasilkan buah dan yang lainnya yang nantinya manusia dan binatang manfaatkan untuk kelangsungan hidup mereka. Itu merupakan Sunatullah bahwa mahluk yang lain bermanfaat untuk mahluk yang lainnya. Dan sebaik baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat untuk sesamanya. Lalu kenapa ada manusia yang kikir yang hanya memikirkan kemakmuran dirinya saja, dan bahkan tamak dengan dalih bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini bisa dimanfaatkan maka dia eksploitasi sumber daya alam tersebut untuk kepentingan pribadi tanpa memikirkan generasi berikutnya yang juga membutuhkan sumber daya alam tersebut. Contoh kecil saja, pembabatan hutan. Dengan sogok sana sogok sini akhirnya orang orang tertentu bisa mendapatkan ijin hapeha, dengan ijin hapehanya tersebut dia gunduli hutan untuk dijual kayunya ke negara lain yang seharusnya kita rawat untuk keberlangsungan hidup kita dengan mengambil manfatnya secara bijaksana dan bukan eksploitasi besar besaran tanpa memikirkan masa depan. Bukan apa apa, butuh waktu puluhan tahun bahkan ratusan tahun untuk bisa menjadikan suatu ekosistem. Ketika hutan dibabat, habitat akan hilang, daya resap tanah akan hilang karena tidak ada lagi akar akar pohon yang akan menghisap air rembesan pada tanah sehingga lama kelamaan tanah menjadi kering lalu mengeras dan air hujan akan mengalir dipermukaan yang akan menimbulkan banjir dan pada kondisi tertentu menyebabkan ikatan tanah merenggang dan menimbulkan erosi yang pada intinya bencana yang akan kita rasakan (naha jadi ngobrolna kadinya nya, tapi bae lah da geus kadung emosi aing).

Setelah menyantap sarapan berupa mie kuah, aku merebahkan tubuhku untuk tidur sejenak, maklum ternyata begadang semalaman membuatku tak kuat untuk istirahat barang sesaat sekedar menghilangkan rasa kantuk (ah ngomong we geus kabiasaan lamun geus barang nyatu pasti tunduh alias hayang molor). Sementara itu sahabatku memilih untuk membaca buku yang sengaja dia bawa untuk mengisi kekosongan waktunya. Kira kira pukul sembilan pagi aku terbangun kaget karena sahabatku menaruh patahan pohon pinus dikepala dan tubuhku (marukana aing geus modar meureun nya, jadi rek dikubur make tatangkalan kitu, sia mah heureuy teh meni ndeso ah). Tapi walaupun begitu aku merasa tubuhku segar kembali, mungkin itu yang disebut sebagai tidur yang berkualitas, tidur sebentar tapi mantap daripada tidur lama siga bangke tapi malah membikin tubuh menjadi lemas. Sementara sahabatku membereskan peralatan, aku memunguti sampah bekas bungkus makanan yang kami bawa dan sampah yang lainnya disekitar lapak kami dan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang sengaja kubawa sebagai tempat sampah sementara sampai kami menemukan tempat sampah sebenarnya. Bukan apa apa, aku sangat prihatin dengan keadaan sekarang dimana orang orang yang menyebut dan ingin disebut sebagai pecinta alam malah membuang sampah sembarangan (mikir atuh nying, gunung teh lain wadah runtah, goblog siah), seharusnya masing masing orang berpikir untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya. Jika semua orang yang berkegiatan di alam terbuka berpikir seperti itu tentu kita tidak akan melihat sampah berserakan entah itu pada jalur pendakian, pada daerah yang dijadikan tempat menginap, atau dimana pun disekitar gunung tersebut, kan indah. Dan perilaku tersebut harus kita mulai dari sendiri, mulai hari ini. Setelah melakukan brifing, akhirnya kami putuskan untuk tidak langsung turun tapi terus menuju kawah gunung tangkuban perahu.

Kira kira pukul sepuluh pagi perjalanan kami lanjutkan menuju arah timur dari tempat kami bermalam. Kembali kami menyusuri jalan setapak namun kini medannya tidak terlalu menanjak namun cenderung landai. Tak berselang lama, dari keadaan di puncak yang begitu terbuka kini kami kembali masuk hutan. Setelah berjalan kurang lebih dua jam kami tidak juga sampai di daerah gunung tangkuban perahu. Malah berulangkali kami menemukan jalan buntu alias jalur yang tiba tiba tertutup. Bolak balik kami mencoba menemukan jalur yang benar namun tak kunjung kami temui. Di tengah keputus asaan kami, dalam perjalanan kami bertemu dengan seorang penduduk sekitar yang sedang beristirahat dari berkegiatan mengambil hasil hutan berupa dedaunan yang aku juga tak tahu digunakan untuk apa nantinya oleh penduduk tersebut. Kami pun menanyakan arah kemana kami harus berjalan, karena penduduk lokal seperti yang kami temui tersebut pastilah hapal benar daerah ini. Setelah ditunjukkan ke arah mana seharusnya kami berjalan disertai patokan jalan berupa tanda jalan yang harus kami temui jika ingin sampai di tujuan kami berikutnya, kami pun dengan semangat kembali melanjutkan perjalanan kami. Meskipun tidak semudah seperti yang diceritakan oleh penduduk lokal tadi, akhirnya kami bisa juga mencari jalur menuju gunung tangkuban perahu. Kira kira setengah jam perjalanan dari ketika kami bertemu dengan penduduk lokal tadi, kami sampai di bawah pelataran pos gunung tangkuban perahu. Kami langsung istirahat sejenak sambil kembali membuka peralatan memasak kami untuk memasak mie dan tentu saja membuat minuman pemersatu para petualang, ya, bikin racikan air kopi. Beres kami menikmati masakan mie yang kami buat, sambil menikmati kopi di gelas kami masing masing pleus ngisep udud si hejo kami kembali ngocoblak.

Pembicaraan siang itu tiba tiba saja mengarah kepada obrolan yang sangat sensitif, terlebih untuk seumuran kami pada saat ini. Ya, mendadak tanpa sadar kami berbicara mengenai pernikahan dan segala sesuatunya yang berhubungan dengannya. Mulai dari pertanyaan kapan masing masing dari kami untuk menikah, bagaimana persiapannya, dan bahkan hingga bagaimana nanti kami jika sudah menjadi seorang suami terlebih menjadi seorang ayah. Kami pun saling memberikan pandangan terhadap pertanyaan yang kami masing masing lontarkan. Dahsyat memang yang kami alami siang itu, kami buka bukaan tentang hal yang disebut pernikahan dan segala sesuatunya yang berhubungan dengannya. Semuanya dikupas dengan nalar yang kritis. Dan, ha ha ha ha, kalau dipikir pikir gaya bicara kami bak seorang konsultan pernikahan, busyet dah. Keluguan dan kepolosan kami terhadap hal yang belum terjadi pada diri masing masing dari kami namun tanpa sadar hal itu berada di depan mata kita dan mau tidak mau harus kita pikirkan dengan matang, membuat masing masing dari kami menghayal terlalu jauh, bebas teuing lah. Tak jarang kami tertawa terpingkal pingkal menyikapi permasalahan di seputar pertanyaan pertanyaan nakal kami tersebut. Namun dari pertanyaan pertanyaan nakal tersebut lah kami mendapatkan banyak hal yang asalnya masing masing dari kami tak pernah pikirkan. Hal hal sepele yang jika tidak dipikirtkan bagaimana pemecahannya bisa berbuntut rumah tangga menjadi tidak harmonis bahkan kandas di tengah jalan. Cita cita membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah pun hancur hanya karena masalah sepele. Tak jarang pula kami hanya terdiam membisu, entah karena sedang menganalisa apa yang baru masing masing kami utarakan atau entah karena masing masing dari kami tersadarkan bahwa permasalahan seputar pernikahan ternyata begitu kompleks bahkan amat sangat teramat rumit. Namun kami sepakat bahwa semua ketakutan yang masing masing kami wacanakan bukan untuk membuat kami mundur dalam menghadapi permasalahan tersebut, apalagi sampai berencana untuk tidak menikah, tentu saja tidak. Justru semua wacana gila kami tentang pernikahan malah membuat kami sadar betapa pentingnya memahami ilmu untuk membangun rumah tangga yang diridhoi olehNya, dan satu yang pasti kami pun sadar betapa kami begitu miskin dalam pemahaman akan ilmu tersebut. Mengingat begitu pentingnya hal tersebut, kami pun berikrar dalam hati masing masing, mulai saat ini kami akan memacu diri kami masing masing untuk belajar dan mencoba lebih memahami ilmu yang berkaitan dengan segala sesuatunya yang berhubungan dengan pernikahan. Dan tentu saja hal paling besar yang berhubungan dengan pernikahan adalah masalah pemahaman akan agama, itu sudah pasti.

Dari permasalahan seputar pernikahan kami lanjutkan membicarakan mengenai kematian. Brrrrr, ngeri memang tapi seperti yang sudah kukatakan obrolan ini memang obrolan yang sensitif, selain karena kami belum mengalaminya, juga sama halnya dengan pernikahan bahwa itu merupakan hal ghoib yang masing masing dari kami tidak bisa meramalkan dengan pasti kapan akan terjadi pada diri masing masing dari kami tapi pasti akan terjadi (maksud aing lamun modar mah pasti kajadianana tapi lamun kawin mah boa boa can kawin geus modar jadi bisa jadi kajadianana bisa henteu, kitu cenah mah, ulah salah tafsir nya, omat siah). Namun pada obrolan yang satu ini kami hanya bisa menganalisa dengan batas nalar kami sebagai manusia yang lemah dan bodoh, sehingga tentu saja terbatas dalam penegembangan wacana akan hal hal yang berkaitan dengan kematian tersebut (lain nanaon euy, ari ngomongkeun nu kieu mah kudu ati ati teu bisa sompral, heug modar pas ngomongkeun pan cilaka, emang sih lain ngan ngomongkeun nu kieu hungkul nu teu meunang sompral mah, tapi dasar jelema nya aya we nu diheureuykeun teh, ampun Ya Allah). Satu jam lebih sudah kami ngocoblak, tadinya kami ingin melanjutkan perjalanan menuju kawah gunung tangkuban perahu namun karena obrolan dadakan di luar skenario kami yang menyedot jatah istirahat menyebabkan kami mengurungkan niat kami untuk terus ke arah kawah malainkan turun pulang, dan tentu saja menggunakan jalur pendakian yang sama ketika kami berangkat tadi malam. Setelah membereskan peralatan memasak dan tidak lupa kembali memunguti sampah bekas bungkus makanan kami selama istirahat, kami lanjutkan perjalanan menuju pulang.

Sekitar pukul setengah tiga sore kami sampai di sumber air dekat puncak jayagiri atau beberapa meter setelah melewati warung abah. Kami memutuskan untuk menunaikan Shalat Dzuhur di sekitar sumber air tersebut. Memang agak telat tapi bukan berarti kami sengaja untuk menunda waktu untuk menunaikan Shalat Dzuhur mendekati waktu Shalat Ashar, karena kami berpikir bisa saja Shalat di tengah perjalanan turun tadi tapi masalahnya tidak ada sumber air yang dapat kami temui dan sepertinya satu satunya sumber air yang dapat kami temui ya yang di dekat warung abah (semoga Allah mengampuni kesalahan kami ini, Amin). Beres Shalat Dzuhur sambil menunggu tiba waktu Ashar, kami duduk bermalas malasan tak jauh dari tempat kami Shalat. Dan lagi lagi, bari ngobrol nya ngeunahna bari ngudud. Obrolan kami kini lebih edan lagi yaitu berbicara tentang bagaimana seharusnya menyikapi keadaan dunia saat sekarang yang serba semrawut, musibah dimana mana, dan masalah hidup yang semakin pelik. Ada kurang lebih satu jam kami berbicara tentang hal hal keduniawian, yang pada kesimpulannya dalam menjalani hidup ini tiada lain dan tiada bukan haruslah mengikuti aturan yang sudah Sang Pencipta buat yang termaktub dalam kitabNya yaitu Al Quran dan jika penjelasan Al Quran dirasa kurang mengena dalam mengatasi problema hidup ini maka Sunnah Rasulullah adalah solusi terakhir. Setelah beres menunaikan Shalat Ashar, kami bergegas melanjutkan perjalanan turun menuju pos pendakian. Kurang lebih pukul lima sore kami tiba di pos pendakian jayagiri. Setelah membuang kantong plastik berisi sampah bekas bungkus makanan selama pendakian ke tempat sampah yang disediakan dekat pos pendakian, kami melanjutkan perjalanan turun ke arah lembang. Tiba di lembang pukul lima lebih seperempat, kami langsung naik angkutan kota menuju terminal ledeng. Pukul setengah enam sore setibanya kami di terminal ledeng langsung kami sambung dengan menaiki bis kota terakhir menuju terminal leuwi panjang. Sampai di terminal leuwi panjang sudah pukul tujuh kurang seperempat, kami pun bergegas menuju rumah sahabatku yang memang tak jauh dari situ. Lagi lagi kami menunaikan Shalat fardu pada waktu hampir masuk waktu Shalat fardu berikutnya (ampun Ya Allah). Akhirnya pada pukul sepuluh malam aku pamitan untuk pulang ke rumahku sendiri.

***

Perjalanan singkat namun begitu berarti bagi kami dan terutama buatku tersebut telah menginspirasikan sesuatu. Keinginan mengulang kembali perjalanan tersebut bersama kedua sahabatku yang lainnya. Namun hingga detik ini aku terus dibayang bayangi oleh ketakutan yang selalu menjadi mitos bagi kita berempat yaitu hanya menjadi wacana saja.

tiga september dua nol nol tujuh

(Mocha)

Selasa, Agustus 28

“Bualan” Ajo Sidi buat Kakek Garin

 
Oleh Wildan Nugraha


MUNGKIN, untuk situasi kita sekarang ini cerpen “Robohnya Surau Kami” AA Navis adalah contoh karya yang makin menemukan aktualisasinya. Dalam cerpen ini, melalui “bualan” tokoh Ajo Sidi, disebutkan bahwa bumi Indonesia adalah mahakaya-raya, namun manusianya malas-malas, saling berkelahi, saling menipu, saling memeras antara mereka sendiri sehingga hasil tanahnya orang lainlah yang mengambil.

“Robohnya Surau Kami”, karya salah seorang pengarang terbaik kita, Ali Akbar Navis (17 November 1924–22 Maret 2003), menceritakan Kakek Garin, seorang penjaga sekaligus imam surau yang taat beribadah. Hingga usia tua dia hidup membujang. Ia mendapatkan uang dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat, dari bagi hasil pemunggahan kolam ikan yang terletak di depan surau, dan dari fitrah Id warga kepadanya sekali setahun. Ia juga kadang mendapat upah dari kepandaiannya mengasah pisau dan gunting, namun kepandaian ini tidak dijadikannya profesi, tapi hobi semata.

Semua “baik-baik saja” sebelum suatu kali Ajo Sidi, seorang pembual, mengunjunginya minta diasahkan pisau. Dan tragis, beberapa hari kemudian, Kakek Garin didapati bunuh diri, menggorok leher sendiri. Tokoh “Aku”—sebagai pencerita—merasa pasti bahwa penyebab kemuram-durjaan Kakek adalah tersindir oleh dongengan Ajo Sidi. Dalam bualannya, Ajo Sidi menceritakan orang-orang yang sudah berpulang. Ia bercerita tentang Haji Saleh yang bersama sekian banyak orang “saleh” lainnya (bahkan ada yang sudah sampai empat belas kali ke Mekkah dan bergelar syekh pula) kena murka Tuhan di Padang Mahsyar, dan akhirnya harus masuk ke neraka, padahal mereka merasa sebagai umat yang paling taat beribadah, menyembah, menyebut, memuji-muji kebesaran Tuhan, mempropagandakan keadilan-Nya, bahkan “kitab-Mu pun kami hafal di luar kepala kami”. Kritik Tuhan tajam ke kepada Haji Saleh dan teman-temannya: “Aku beri kau negeri kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena peribadatan tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat.”

“Robohnya Surau Kami” mendapat tanggapan luas sejak pemuatannya di majalah Kisah tahun 1955. Cerpen ini memang bisa disebut kontroversial, ada yang setuju ada yang tidak. Bahkan di Malang Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dan organisasi Islam lainnya menggelar seminar khusus untuk menilai cerpen ini. Di Yogyakarta, HMI Universitas Gajah Mada mengadaptasi cerpen ini dalam sebuah lakon ke atas pentas. Lakon ini dimainkan secara monolog oleh seorang pemain dan suara Tuhan keluar dari loudspeaker.

Yang hendak disampaikan AA Navis memang bukan sesuatu yang “nyaman”. Melalui cerpen ini, menurut Adilla (2003), Navis secara kritis melihat situasi kehidupan beragama masyarakat kita yang memandang ibadah itu terbatas pada mengaji, puasa, naik haji, dan shalat. Navis menawarkan bahwa kerja itu juga ibadah. Bekerja dengan tekun pada jalan yang baik, mengolah hasil bumi, kekayaan alam, atau memahami gejala alam untuk ilmu pengetahuan juga ibadah. Lebih jauh, tambah Adilla, kehidupan akhirat merupakan hasil usaha umat manusia di dunia. Usaha di dunia berarti menghidupi diri dan saudara-saudara yang lain dalam rangka mencari kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Usaha untuk kehidupan dunia dan akhirat haruslah seimbang. Atau seperti pernah dikatakan kritikus Sapardi Djoko Damono, melalui cerpen ini, “Navis mengingatkan kita akan pentingnya mencari nafkah, bekerja keras, mengucurkan peluh di dunia ini—di samping menyebut-nyebut dan memuji nama Allah. Kerja keras adalah bagian penting dari ibadah kita.”

Kiranya jelas, Navis melalui “Robohnya Surau Kami” telah dengan tajam melukiskan betapa agama kehilangan spiritnya manakala ia dihayati semata-mata sebagai seremoni, sebagai ritual rutin. Pandangan Navis ini dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Islam yang berkembang di kalangan ulama muda di Padangpanjang, kota kelahiran dan tempat ia menghabiskan masa remajanya. Navis seolah hendak menyindir mereka yang cenderung mengambil jalan fatalis dalam hidupnya, “takut” serta “pasrah” terhadap apa pun ketentuan-Nya, namun tanpa disadari mengarah juga terhadap sikap egois dan individualistik yang justru tidak searah dengan semangat Islam. Dalam biografinya yang dikerjakan Abrar Yusra (1994), Navis berkata di antaranya: “Sikap agama dan budaya Islam di Indonesia mulanya amat dipengaruhi oleh tarikat. Orang-orang tarikat berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, bahkan menyatukan diri. Di situ amalannya, hanya itu. Maka tak ada pilihan lain. Karena itu orang Islam di Indonesia tak berkembang pemikirannya. Orang hanya menghabiskan waktu untuk zikir, takbir, dan lain-lain. Kepedulian sosial jadi tumpul. Dinamika hilang. Tak mengherankan jika kondisi mereka miskin. Kalau ada orang yang berbeda, yang berbuat lain, maka dipandang bersifat duniawi.”

Di sisi lain, seperti pernah ditulis oleh Umar Junus (1994), sebenarnya “Robohnya Surau Kami” adalah cerpen yang silepsis (ambigu). Tokoh “Aku” memang menolak pandangan kolot Kakek, malah membencinya, namun sekaligus ia menyayangkan kematiannya, kematian yang menyebabkan “surau kami” roboh dan hilangnya syiar agama. Pun terhadap Ajo Sidi: ia tidak menyangkal “kebenaran” dongeng Ajo Sidi; tapi sekaligus menganggap Ajo Sidi sama sekali tidak bertanggung jawab. Saat tahu Kakek Garin meninggal, Ajo Sidi tetap pergi kerja dan hanya meninggalkan pesan kepada istrinya agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.

Haidar Bagir, dalam wawancara sebuah harian Ibu Kota beberapa waktu yang lalu, berkata bahwa dia pernah menulis artikel tentang pendidikan agama kita yang gagal. Kata pemimpin Mizan itu, meski banyak orang pergi haji, umrah, zikir akbar, ternyata sebagai bangsa kita belum juga beranjak lebih baik. Sebabnya karena kita diajar agama hanya dari sisi legal formalistik—shalat lima waktu sudah jadi muslim yang baik. Pernyataan-pernyataan seperti itu, yang “nakal” seperti juga dari Navis, tentu tidak harus dipusingkan karena justru berharga. Barangkali di antaranya yang tersirat dan penting terus dikejar: apakah ritual-ritual itu termanifestasikan dalam akhlak? Karena toh banyak koruptor shalat. Bila shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, tentu bukannya berarti kegemaran korupsi tidak keji dan mungkar—hanya karena rasanya kita belum pernah mendengar ada koruptor dipukuli lalu dibakar massa seperti maling sepatu bekas?

“Robohnya Surau Kami” disebut-sebut pengamat sastra sebagai salah satu cerpen bernuansa Islam terbaik dengan warna Indonesia. Ia dipublikasikan pertama kali lebih dari limapuluh tahun silam; telah berusia tua, tapi tetap aktual—bila bukan semakin aktual saja karena “Haji Saleh dan kawan-kawannya” ternyata banyak saja di Tanah Air?

Bandung, 2 Mei 2007

Buku Bacaan:

Adilla, Ivan. 2003. A.A. Navis: Karya dan Dunianya. Jakarta: Grasindo.

Junus, Umar. 1994. “Navis dan/sebagai Teks/Wacana: Kemarau yang Mengg/Halang Robohnya Surau Kami” Otobiografi A.A. Navis Satiris dan Suara Kritis dari Daerah. Ed. Abrar Yusra dan Priyo Utomo. Jakarta: Gramedia.

Navis, A.A. 2002. Robohnya Surau Kami. Jakarta: Gramedia.

Yusra, Abrar. 1994. Otobiografi A.A. Navis Satiris dan Suara Kritis dari Daerah. Jakarta: Gramedia.



(Esai ini dimuat di Sabili No 3 Th XV 23 Agustus 2007/10 Sya’ban 1428)



Wildan Nugraha, kelahiran Bandung, 12 September 1982. Kuliah di Faperta, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Padjadjaran. Bergiat di Forum Lingkar Pena Bandung. Tulisan-tulisannya berupa cerpen, esai dan tinjauan buku dimuat di Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Galamedia, Radar Bandung, Sabili, Annida, Buletin Wanadri. Tinggal di Jl Leuwi Anyar VII No 37, Bandung 40234. Telepon: 022-5226967. HP: 0817613420. Juga dapat dikontak melalui email: wildanugraha@yahoo.com, dan wildan.nugraha@gmail.com. Nomor rekening: 0023033767 BNI Cabang Unpad Bandung a.n. Wildan Nugraha.

=================

Kunjungi bila Anda luang, http://titikluang.blogspot.com

“TITIK LUANG semesta lapang pertemuan. Kita saling menjamu di sini. Duduk rehat sesekali seperti pelancong berbagi bekal dan cerita hari kemarin, di kaca kedai atau punggung bukit. Menarikhembuskan napas di titik biasa, selagi luang, selagi lapang.”

pena telah diangkat dan tinta telah mengering

Kawan-kawan, dan semua yang membaca, di ruang ini saya pernah bilang:

“Ketidaksamaan yang aku pahami adalah ketidakserupaan yang agak artifisal, bila ini menyangkut keberislaman. Maksudku, soal akidah memanglah soal yang satu: Tiada Tuhan Selain Allah! Namun, penjabaran inti ajaran Islam itu ternyata belum juga bisa dibuat sama. Belum ada dibuat satu panduan universal yang kudu dijalankan sama dan seragam oleh setiap muslim bila dia ingin benar-benar Islam! Yang ada hanya Al-Quran dan Sunnah. Dua panduan yang ditetapkan Allah untuk kita pikirkan sebelum kita jalankan. Sehingga, dan memang demikian, Islam tidak seperti Marxsisme—bukan sebuah isme, takbisa disetarakan dengan isme-isme ciptaan manusia, yang ternyata kadang otoriter dan punya perangai menggasak.”

Waduh, gagah sekali rasanya saya! Tapi kok jadi merinding sendiri. Seram. Takut. Tapi saya enggak bisa ngapa-ngapain, misalnya mengumumkan pada dunia bahwa saya menggigil karena takut oleh kepongahan saya sendiri menulis sesuatu yang sebenarnya saya tidak kuasai sepenuhnya; bahwa waktu itu saya menulis karena dibarengi emosi yang agak menclak sana menclok sini karena ada sesuatu keajegan yang tengah kubangun namun terusik dalam perjalanannya. Lalu itulah dia, pena telah diangkat dan tinta telah mengering. Semoga kawan-kawan dan pembaca budiman—siapa pun engkau—adalah orang-orang pintar nan cerdas yang mau mengerti serta menerima bahwa saya memang bodoh dan terlalu banyak maunya.

Tabik!

wn

Rabu, Agustus 22

Hingar bingar ... mungin ada dipasar ...

Wah entah pada kemana ... manusia-manusia yang sedang berkutat dengan segala bentuk rutinitasnya ... dunia yang dibayangkan akan tetap dekat walau terbatas ruang dan waktu ... tetep aja kerasa jauh ... dan sepi ...

Selasa, Agustus 14

UKHUWAH

HAKIKAT UKHUWAH
Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan bahwa dia tidak mau hidup lama di dunia yang fana ini kecuali karena TIGA HAL, YAITU :
[1] keindahan berjihad di jalan Allah.
[2] repotnya berdiri Qiyamul Lail
[3] indahnya bertemu dengan sahabat lama.
Hakikat UKHUWAH :
1. Ukhuwah adalah hadiah, kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
Dalam berukhuwah harus meluruskan ataupun membersihkan hati dari niat yang salah. Adapun usaha untuk menguatkan hati merupakan hal yang perlu dipelihara. Sedangkan yang mampu menguatkan hati adalah Allah semata. Maka dari itu, seorang hamba hendaknya meminta kepada Allah untuk dikuatkan ukhuwahnya terhadap saudara-saudaranya yang muslim.
2. Ukhuwah lahir dari buah keimanan seorang muslim
Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang sehingga dia mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
3. Ukhuwah melahirkan kekuatan.
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan,
yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(Al-Qur’an Al-Karim Surah Al-Anfal [8] : ayat 46)
4. Ukhuwah harus teruji.
Seringkali ketika dalam kondisi senang, banyak para sahabat kita yang mendekat dan jumlahnya pun bertambah. Ini merupakan bunga-bunga ukhuwah. Akan tetapi, ketika kondisi sulit menimpa, bisa jadi hal ini dapat mengguncangkan ukhuwah kita. Jadi, saat inilah ukhuwah teruji. Dan tingkatan ukhuwah yang tertinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya).
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri
dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,
dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
(Al-Qur’an Al-Karim Surah Ali-Imran [3] : ayat 159)


(maaf jika ada kesalahan, mohon dikoreksi)

Jumat, Agustus 3

Keberagaman atau Keseragaman?

Keberagaman atau Keseragaman?

-Andri-

“Sepakbola telah jadi olahraga yang begitu populer di muka bumi ini, siapa yang tak kenal David Beckham, selain pesepakbola profesional, dia juga sudah merambah ke dunia selebritis”.

Apalagi sebagian warga Inggris begitu fanatik dengan olahraga ini, sampai-sampai mereka menganggap sepakbola sebagai ‘agama’ kedua mereka atau mungkin sudah menjadi ‘agama’ resmi mereka. Walupun masih menjadi perdebatan mengenai genesis Inggris sebagai negara yang menemukan sepakbola.

Sepakbola selalu mengundang emosi, fanatisme dan bahkan acapkali disertai tindakan-tindakan kasar para fans sepakbola, mempunyai susunan organisasi global yang tangguh, dengan anggota lebih banyak ketimbang anggota PBB. Begitulah menurut Bill Muray sebagai pakar sejarah olahraga tentang sepakbola.

Sama seperti cerita temanku yang mulai keranjingan sepakbola saat SMP, maka akupun awalnya memulai tertarik dengan olahraga tersebut waktu di bangku SMA, lalu saat menginjak ke jenjang perkuliahan semangat untuk terus mengikuti informasi dan bermain si kulit bundar ataupun rada lonjong dikit karena bahannnya terbuat dari plastik.

Dan terbukti apa yang dikatakan oleh Muray, bahwa sepakbola selalu mengundang emosi dan lain sebagainya. Saat aku bermain dengan teman-temanku, emosi tersebut secara otomatis keluar, naluri untuk melakukan tindakan yang diluar kendalipun muncul.

Tapi itulah permainan, walaupun secara naluriah sesuatu dapat muncul secara spontan namun semuanya kembali akan diatur sesuai dengan aturan main yang ada dan kita diminta menggunakan akal serta nafsu kita juga harus dikendalikan. Tentunya ada ‘wasit’ yang mengawasi jalannya permainan, memberikan hukuman bagi setiap pelanggaran, sampai kepada menghentikan sebuah pertandingan yang sedang berlangsung. Apa jadinya bila tidak ada ‘wasit’?

Sementara ada suporter sebuah tim sepakbola yang bermarkas di Paris van Java yang selalu mencela wasit dengan kata “wasit go---ok” bila keputusan yang diambil ‘merugikan’ pihak tuan rumah. Ternyata bukan kapasitas suporter, ataupun pemirsa televisi, termasuk saya bila menonton suatu pertandingan sepakbola untuk memberikan sebuah penilaian terhadap official pertandingan. Ada yang berhak untuk melakukan penilaian tersebut. Bukan berdasarkan hawa nafsu. Ya, itulah manusia.

Itulah uniknya manusia, mereka diberi akal. Manusia disebut manusia karena dia dapat dilihat dengan mata atau karena ia memiliki gerakan lahir dan batin. Dengan akalnyalah manusia menciptakan suatu permainan berikut aturan-aturannya. Sepakbola adalah urusan dunia, sepakbola akan menjadi agama bila dijadikan pegangan oleh manusia. Sebab, apapun yang namanya peraturan, undang-undang, syariat, pola fikir dan amal yang dijadikan pegangan manusia, akan menjadi agama (dien) bagi orang yang mengikutinya.


Jadi, secara bahasa, aturan-aturan yang ada pada sepakbola lalu dijadikan pegangan oleh manusia untuk menetapkan sesuatu, maka dapat disebut dengan agama ‘dien’. Jelaslah bahwa bagi orang Inggris, sepakbola bisa menjadi agama mereka.

Bagi kaum muslimin, semua tentang dien yang telah disebutkan di atas harus bersumber dari Al Quran dan Sunnah yang shohih menurut pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya. Dien menurut pandangan Islam adalah apa-apa yang telah ditentukan oleh Allah dalam kitabnya yang bijaksana dan Sunnah Nabi-Nya yang shohih, baik berupa perintah, larangan, maupun petunjuk untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat.

Dari Anas r.a., ia telah berkata; Telah bersabda Rasulullah SAW: “Apabila ada sesuatu urusan duniamu, maka kamu lebih mengetahu. Dan apabila ada urusan agamamu, maka kembalikan padaku.” (H.R. Ahmad). Hadits ini mununjukkan bahwa apapun urusan agama mutlak harus mengacu pada Nabi, sementara urusan dunia bebas terserah kita selama tidak diatur oleh agama dan tidak bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah.

Pada dasarnya urusan duniawi boleh, dan tidak terlarang, kecuali ada keterangan yang melarang, mengharamkan, dan bukan mencari dalil yang menghalalkan. Perbuatan yang ditinggalkan Rasullullah SAW ada dua bagian, yaitu: (1) Ada yang menjadi Bid’ah; (2) Ada yang menjadi Maslahat Mursalah.

Bid’ah adalah apa-apa yang ditinggalkan Rasul, padahal ada motif serta perangsang untuk mengerjakannya, dan tidak terdapat kendala untuk mengamalkannya. Jadi, tidak semua perbuatan yang di zaman Nabi tidak dikerjakan kemudian saat sekarang ini dikerjakan otomatis menjadi bid’ah, akan tetapi ada yang menjadi perbuatan Maslahat Mursalah, artinya boleh dikerjakan.

Sedangkan pengertian dari maslahat mursalah adalah apa-apa yang ditinggalkan Rasul, karena tidak ada motivasi pendorong dan perangsang untuk mengamalkannya, sementara terdapat faktor kendala untuk mengerjakannya. Contoh: Upaya membukukan Al Quran, Penggunaan Speaker saat Azan. Untuk jelasnya akan dijabarkan maksud dari upaya membukukan Al Quran, di zaman Nabi ataupun oleh Nabi upaya ini tidak dilakukan, karena tidak atau belum ada motivasi untuk melakukannya ke arah itu, yakni Nabi masih ada dan para Sahabat yang hafal Al Quran masih banyak, disamping terdapat hambatan untuk mengerjakannya, bahwa wahyu masih berangsur turun.

Di zaman Abu Bakar Shiddiq timbul dan berkembang gagasan yang bermula dilontarkan oleh Umar bin Khathab untuk membukukan Al Quran dengan lengkap dan mustahil akan adanya wahyu yang baru atau turunnya wahyu karena Rasul telah wafat. Selain alasan itu, timbul kekhawatiran atau ketidaksinambungan Al Quran, maka dibukukanlah Al Quran di zaman Abu Bakar atas perintahnya.

Perbuatan semacam ini tidak dapat dan tidak boleh dikatakan sebagai perbuatan bid’ah, melainkan tergolong kepada Maslahat Mursalah. Dan olahragapun termasuk ke dalam Maslahat Mursalah karena dilihat dari segi manfaatnya jauh lebih besar dan mudharatnya sangat kecil. Olahraga menjadi terlarang bila mempertontonkan aurat semaunya (baik laki-laki maupun perempuan). Olahraga sepakbolapun terlarang bila laki-laki mempertontonkan auratnya –apalagi perempuan, yaitu di atas lulut pemain sepakbola terlihat aurat, dan bukannya ditutupi.

Aku kira saudara-saudaraku sudah faham dengan masalah ini. Penjelasan di atas hanya untuk memperjelas pandanganku mengenai suatu hal berdasarkan ilmu dan pemahaman yang ku miliki.

Kembali ke sepakbola, kalau kita lihat saat siaran pandangan mata setiap liga professional yang berlaga atau kejuaraan antar negara yang bersifat regional maupun internasional. Ada banyak pemain dengan tim yang berbeda pula berlaga. Pemain sepakbola begitu beragam, berasal dari negara yang berbeda, dengan warna kulit yang berbeda pula, begitupun dengan agama yang berbeda. Disinilah dapat kita lihat bagaimana keberagaman itu dapat bersatu walaupun bahasa yang digunakan oleh setiap pemain berbeda.

Mengingat keberagaman yang akan ku bahas ini, maka kendala bahasa bukan menjadi suatu masalah besar, karena di dalam permainan ini telah ada aturan baku secara internasional dan miss communication sangat kecil sekali terjadi. Begitupun kesolidan permainan suatu tim, setiap pemain sudah paham akan posisi mereka dan tujuan yang akan dicapaipun sudah tertanam di dalam benak mereka.

Allah SWT telah menciptakan manusia dengan berbagai komponen pembentukan, meliputi: ruh (QS As-Sajdah: 9 & QS. Al Hijr: 29), tanah (QS. Al-Hajj: 5), hati (QS. Al-An’am: 25; QS. Al-Baqorah: 7, 74, 78; QS. Al-Anbiya: 3; QS. Al-Ahzab: 12; QS. As-Syuura: 89), akal (QS. Al-Maidah: 58), jasad (QS. Al-Hajj: 29), nafsu (QS. Al-Maidah: 30; QS. Al-Qiyamah: 1-2; QS. Al-Fajr: 27-30; QS. Yusuf : 53; QS. Al-Kahfi: 74), diberi amanah (QS. Al-Ahzab: 72), untuk ibadah (QS. Adz-Zaariyat: 56), dan menjadi khalifah (QS Al-Baqoroh: 30).

Dengan adanya salah satu organ di kepala kita yang rata-rata beratnya hanya 2,5% dari berat badan manusia, kita diberikan kemampuan berpikir dengan menggunakan akal kita untuk beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Kita telah diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Tin ayat 4, komponen di atas sudah ada pada manusia, tinggal bagaimana kita menggunakannya seefektif mungkin.

Selain itu, dalam penciptaan-Nya itulah Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai keragaman sesuai dengan firman Allah SWT: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantar kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”. (QS. Al-Hujarat: 49)

Keberagam itu adalah merupakan tanda kekuasaan Allah SWT sesuai dengan firman-Nya: “Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (QS. Ar-Rum: 22).

Untuk lebih jelasnya, kita lihat tafsir Ibnu Katsir Rahimahullah mengenai Surat Al-Maaidah ayat 48. Allah mulai menceritakan Al-Quranul Azhim yang diturunkan kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran”. Yaitu dengan kebenaran yang tidak diragukan lagi bahwa ia benar-benar berasal dari sisi Allah. “yang membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-kitab”. Yaitu, Kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya yang memuat penyebutan dan pemurnian terhadap kitab Al Quran; Kitab itu akan diturunkan dari sisi Allah SWT kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya, Muhammad SAW.

Maka turunnya Al Quran itu adalah sesuai dengan apa yang diberitakan di dalam Kitab-kitab tersebut (Taurat dan Injil) –kitab yang asli, belum ada perubaha sedikitpun. Masih adakah Kitab-kitab tersebut yang masih orosinil?

Hal itu akan menambah kebenarannya bagi pembacanya; dari kalangan orang-orang yang berpikir, yang tunduk kepada perintah Allah SWT, dan mengikuti syariat-syariat-Nya, serta membenarkan para Rasul-Nya. (diambil dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3, Pustaka Imam Asy-Syafi’i).

Mengenai keberagaman, aku kira analogi di atas sudah cukup. Keberagaman itu adalah salah satu kekuasaan Allah SWT dari seluruh kekuasaan-Nya atas langit dan bumi ini. Dan mohon maaf bila keberagaman disamakan dengan pluralitas ataupun pluralisme yang saat ini digembar-gemborkan oleh kaum JIL dan semacamnya dengan embel-embel nama, entah apalah namanya dengan Ghazwul Fikri yang sedang mereka jalankan, maka kita sudahi saja –Ghawzul Fikri harus dilawan dengan Ghazwul Fikri juga. Dalam beragama hendaklah berpedoman pada dalil, yaitu Al Quran dan Sunnah, jangan bertitik tolak dari guru, madzhab, tempat, organisasi, partai, akal, perasaan dan tradisi.

Kita diberikan akal untuk mengetahui kebesaran Allah SWT, kita telah dipandu dengan adanya Al Quran dan Sunnah. Sebelum itu, kita lihat dahulu apa hak Allah dan hak hamba melalui hadist yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a.: “Rasulullah SAW bertanya kepada Muadz, hai Muadz tahukah kamu hak Allah yang wajib dipenuhi oleh hambanya dan apakah hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda “hak Allah yang wajib dipenuhi hambanya ialah supaya mereka beribadah kepadanya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya sedangkan hak para hamba yang akan dipenuhi Allah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya. (HR Muslim).

Apabila dilihat dari hadits di atas bahwa jelaslah hak Allah adalah untuk diibadahi dan tidak disekutukan (ditauhidkan), sedangkan hak hamba-Nya adalah tidak akan disiksa atau diazab. Ibadah pada dasarnya terdiri dari dua aspek, yaitu: (1) niat, yaitu hanya semata karena Allah dalam melaksanakannya. Harus ikhlas dalam menunaikannya; (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW (Sunnah).

Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul dan pemimpin-pemimpin kamu, apabila kamu saling berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu sebaik-baik dan sebagus-bagus akibat”. (QS. An-Nisa: 59).

Dalam tafsir Ibnu Katsir, maksud dari “apabila kamu saling berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), mujahid dan banyak ulama salaf berkata: “Artinya kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Hal ini merupakan perintah dari Allah SWT, bahwa setiap sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia, baik tentang ushuluddin (pokok-pokok agama) maupun furu’-furu’nya (cabang-cabangnya).

Bila kita berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah, insyaallah kita akan melakukan ibadah sesuai dengan standardisasinya. Karena kedua panduan itulah yang akan membawa kita selamat di dunia dan akhirat. Al Quran dan Sunnah adalah panduan universal bagi seluruh umat muslim di seluruh muka bumi ini. Tidak ada alasan untuk mengkambinghitamkan “penjabaran ataupun panduan universal”. Karena Metodenya Sudah Jelas, Metode memahami Al Quran, yaitu: Ayat ditafsirkan dengan ayat, Al Quran ditafsirkan oleh Sunnah, Tafsir ayat oleh pemahaman Sahabat, dan Tafsir ayat oleh komentar/pemahaman Tabi’in (setiap orang yang bertemu dengan sahabat meskipun tidak sampai bergaul dengannya).

Contohnya adalah perintah sholat yang ada dalam Al Quran, sedangkan tatacaranya (kaifiyat) tidak di atur dalam Al Quran. Untuk mengetahui kaifiyat sholat maka kita hendaklah berpegang teguh pada hadist-hadits yang shohih tentang kaifiyat sholat tersebut. Karena ini berlaku universal, sebab Rasul menerima wahyu yang memerintahkan sholat, namun saat wahyu tersebut turun Rasul tidak langsung melakukan perintah tersebut karena belum tahu kaifiyat sholat.

Singkat cerita, turunlah Jibril yang diutus oleh Allah untuk mengajarkan atau memberi contoh kepada Rasul tentang kaifiyat sholat. Saat itu Rasul berada di samping kanan Jibril dalam posisi sejajar. (Ini dijadikan patokan saat kita sholat berjamaah dengan makmum yang hanya satu orang, imam berada di sebelah kiri makmum dan posisinya sejajar). Jadi, Rasul diajarkan tentang kaifiyat sholat oleh Jibril sesuai dengan waktunya shalat. Dapat juga disimpulkan bahwa dalam beribadah itu menunggu perintah dan ada contohnya.

Adapun Sunnah adalah setiap apa yang ditinggalkan (diterima) dari Rasul SAW berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat fisik atau akhlak, atau peri kehidupan, baik sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, seperti Tahannuts yang beliau lakukan di Gua Hira atau sesudah ke Rasulan beliau. Sedangkan hadist menurut syariat adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dari perkataan, perbuatan, taqrir, atau sifat. Menurut Ibnu Taimiyah Rahimahullah, Hadits adalah seluruh yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW sesudah kenabian Beliau atas perkataan, perbuatan dan ikrar Beliau. Pada dasarnya Sunnah tidaklah sama pengertiannya dengan Hadits.

Sunnah, sesuai pengertiannya secara bahasa adalah ditujukan terhadap pelaksanaan agama yang ditempuh, atau praktek yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dalam perjalanan hidupnya, karena Sunnah secara bahasa berarti Al-Thoriqah, yaitu jalan, jalan yang telah ditempuh (jalan kehidupan).

Sedangkan Hadits itu bermakna khobar (khabar), dan setiap kabar/berita itu ada yang shohih dan ada yang tidak shohih. Sedangkan Sunnah itu Hadits Shohih yang berhubungan dengan pelaksanaan agama yang ditempuh atau praktek yang dilaksanakan Rasulullah SAW dalam perjalanan hidupnya.

Untuk itulah diperlukan ulumul hadits, kita harus mempelajari ilmu hadits. Untuk saudaraku, janganlah mengerutkankening terlebih dahulu membaca atau mendengar kata ilmu hadits, karena ilmu ini pada prakteknya sangat mudah untuk dipahami dan dipelajari. Kita harus tertarik terlebih dahulu untuk menggalinya, dari ketertarikan atau keingintahuan itulah akan timbulnya semangat untuk belajar. Sekali lagi, jangan dianggap susah, karena sekarang sudah ada cara yang cepat untuk memahami hadits tersebut dengan poin-poin utamanya terlebih dulu. Insyaallah.

Insyallah kemurnian Al Quran akan terjamin selamanya, karena Allah yang menjamin di dalam Al Quran. Serta telah diwariskannya Sunnah dari Rasul kepada kita, kita tinggal mencari mana hadist yang shohih dan mana hadits yang tidak shohih. Maka, timbullah keseragaman dengan acuan pada keseragaman penggunaan panduan. Generasi terbaik adalah generasi Sahabat, namun Rasul pernah berkata bahwa generasi setelah wafatnya aku yang tantangannya lebih berat, sebab di tidak dapat melihatku ataupun bertanya kepadaku mengenai suatu permasalahan. Namun, dengan keikhlasan dan ilmu yang mereka miliki mereka tetap yakin untuk melakukan ajaran Islam yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah.

Masih banyak lagi hal-hal yang harus dipelajari, akupun masih banyak yang perlu diperbaiki dan dikaji lebih lanjut. Ada yang namanya Ulumul Quran, Ushul Fiqh, Mustholah Hadits, dan masih banyak lagi.

Tulisan di atas hanyalah gambaran umum saja, silahkan saudaraku sekalian menggali lagi dan berdiskusi dengan menggunakan metode atau kaedah yang baku, karena saudaraku sudah banyak yang keranjingan, entah itu keranjingan membaca, menulis, atau hanya sekedar beli buku, agar kelihatanya punya banyak buku, tapi semoga buku itu dapat diwariskan kepada anak cucu kita, walaupun kita tidak mampu membacanya (Buku yang mana?) –Ah, sudahlah, jangan mengkritik diri.

NB:

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa pengamalan ibadah kita banyak ragamnya, baik shalat, shaum, haji, dll. Tentu saja dalam hal ini perlu dicari jalan keluarnya dan bagaimana pemecahannya.

Menurut Ustadz Aceng Zakaria, umat islam terdapat tiga kelompok:

  1. Ada yang bersikap menutup diri, tidak penasaran untuk mengadakan kaji ulang karena dia telah meyakini perbuatan tersebut pasti benar, dan telah berjalan sekian lama dan telah diamalkan juga oleh para tokoh agama yang dapat diandalkan keilmuannya
  2. Sikap apatis atau acuh tak acuh, tidak mau mencari penyelesaian. Mereka meyakini dua-duanya benar karena masing-masing mempunyai alasan yang kuat. Umat dipersilahkan mengamalkan mana yang ia kehendaki, mau qunut silahkan, tidak qunut tidak apa-apa, yang penting kita menjaga ukhuwah islamiyah dan jangan saling menyalahkan.
  3. kelompok yang berusaha mencari penyelesaian dan memilih mana pendapat yang terkuat karena tidak mungkin dua pendapat yang berbeda dua-duanya benar, tidak mungkin dalam satu masalah terdapat dua hukum yang berbeda, ya halal ya haram, ya sunnah ya bid’ah.

(diambil dari Buku Al hidayah Jilid ke-1 karya Ust. Aceng Zakaria, 2003)

***

Aku juga teringat akan hadist yang menyatakan

“Perselisihan ummatku adalah rahmat”

Hadits di atas dhaif, batal, tidak ada dasarnya, tidak ada asalnya (arab: laa ashla lahu); dari sisi matan (redaksi) hadits, bertentangan dengan Al Quran yang memerintahkan untuk bersatu padu dan mencegah adanya ikhtilaf.; Secara logika juga tidak dapat diterima karena kalau perbedaan umatku adalah rahmat, berarti logikanya “persatuan umatku adalah laknat.

Sepakbola

Sepakbola

Wildan Nugraha

Dahulu aku pernah begitu keranjingan dengan sepakbola. Saat umuran SMP itu aku mengikuti perkembangan si kulit bundar di dalam maupun luar negeri. Dari televisi dan koran, dan dari obrolan dengan kawan-kawan. Tiada hari tanpa bola, begitulah rasanya.

Dan rasanya tidak mungkin juga tidak ada yang tidak suka bola. Setidaknya bila orang itu laki-laki, aku pikir pastilah dia suka sepakbola. Minimal, menonton pertandingannya pasti dengan bersemangat. Entah mengapa bisa, waktu itu aku tidak berkeinginan memikirkan alasannya. Mungkin memang aku sedang tersihir.

Hingga suatu saat aku bertandang ke rumah salah seorang bibiku. Suami bibi, alias pamanku, adalah seorang guru olahraga pada waktu itu. Dan sore hari di rumah bibi itu, aku ingat televisi menyiarkan sebuah pertandingan sepakbola. Pamanku sedang ada di rumah dan pastilah dia pun akan menonton, pikirku. Toh, apalagi, dia kan guru olahraga.

Namun, apa mau dikata. Aku jadinya lumayan bingung memikirkan apa yang kemudian aku dapati sore itu. Otakku berputar tidak jelas sambil menonton sepakbola: pamanku ternyata tidak suka bola!

Bagaimana bisa? Dalam perjalanan pulang kembali ke rumahku keesokan harinya, aku merenung dan seakan ada yang kian memberat di kepalaku. Pamanku seorang lak-laki, tentu saja, dan dia guru olahraga. Kok bisa-bisanya dia tidak suka sepakbola? Apa dunia memang sedang bergulir taknormal?

Ya, Pembaca Budiman. Tanpa hendak tercebur ke dalam perdebatan ide dan pemikiran belakangan ini, aku hendak menyoal tentang keberagaman. Tentang pluraritas, atau apalah istilahnya yang kalian kehendaki tentang ketakseragaman; soal keberbedaan isi kepala orang yang satu dengan isi kepala orang yang lainnya.

Perbedaan adalah keniscayaan. Sebuah sunatullah. Karena bukankah dalam Kitab Suci pun Allah sudah menjelaskannya, bahwa manusia memang diciptakan tak seragam, dan ini dimaksudkan agar manusia saling mengenali satu dengan yang lainnya?

Ketidaksamaan yang aku pahami adalah ketidakserupaan yang agak artifisal, bila ini menyangkut keberislaman. Maksudku, soal akidah memanglah soal yang satu: Tiada Tuhan Selain Allah! Namun, penjabaran inti ajaran Islam itu ternyata belum juga bisa dibuat sama. Belum ada dibuat satu panduan universal yang kudu dijalankan sama dan seragam oleh setiap muslim bila dia ingin benar-benar Islam! Yang ada hanya Al-Quran dan Sunnah. Dua panduan yang ditetapkan Allah untuk kita pikirkan sebelum kita jalankan. Sehingga, dan memang demikian, Islam tidak seperti Marxsisme—bukan sebuah isme, takbisa disetarakan dengan isme-isme ciptaan manusia, yang ternyata kadang otoriter dan punya perangai menggasak.

Islam adalah sebuah keindahan. Sebuah Kebenaran yang pada akhirnya membuat siapapun yang ikhlas memeluknya akan tersenyum. Manusia diciptakan lengkap dengan akal dan pikiran, juga nafsu. Ketiga hal itulah, misalnya, menurutku, yang membuat para sahabat Rasul memiliki karakter dan kepribadian masing-masing yang agung, unik, orisinal. Sang mahaguru, Rasulullah Muhammad Saw, adalah teladan terbaik. Akan tetapi bukankah Ali tetap Ali, dan Umar tetaplah Umar—begitulah sementara ini menurut pemahamanku yang ringkih. Ali berperawakan kecil dan berkepribadian lembut, sementara Umar berperawakan tinggi dan besar serta berperangai keras. Mereka memiliki kepribadiannya masing-masing. Mungkin ini kalimatku yang naif: Islam tidak akan mematikan karakter tiap-tiap manusia, tapi justru akan menguatkan karakter masing-masing pribadi itu.

Contoh dua sahabat Rasul tadi, yang sekilas aku pertentangkan, adalah lagi-lagi tentang ketaksamaan atawa pluraritas yang kubilang artifisial tadi, bila kita hendak mengejarnya pada pemahaman tentang ketauhidan. Bahwa soal kemahaesaan Allah Swt, dan Muhammad adalah utusan-Nya, adalah nilai mati! Soal konsekuensi dari kalimat Tauhid inilah, seperti kejumawaan para petinggi kafir Quraisy saat disodorkan kepada mereka perkara ini, yang kadang jadi masalah buat kita.

Menjadi baik adalah berada dalam wilayah tarik menarik yang sengit antara mudah dan takmudah. Hal ini menyangkut juga kapasitas ilmu yang dimiliki. Namun, menurutku, ada hal lain juga yang takbisa dibilang tidak penting: yakni semangat belajar. Belajar membaca, menyimak, mengkaji, dan mengamalkan, tentu saja.

Dari sebuah buku aku membaca: Bahwa rasa takut kepada Allah adalah hiasan paling sempurna dalam Islam. Rasulullah Saw berkata, “Akar dari kebijaksanaan adalah rasa takut kepada Allah.”

Beberapa pekan yang lalu aku merasakan sebuah sensasi luarbiasa. Teramat membekas setidaknya buatku. Beberapa menit saja aku dan seorang kawan duduk-duduk melihat kehijauan alam di kaki Manglayang. Subhanallah. Yang hijau-hijau memang menentramkan jiwa. Kemudian setelah sore turun kami pun kembali ke keramaian. Masya Allah. Tiba-tiba aku merasakan kegersangan yang agak menekan. Sungguh kontras antara apa yang kulihat dan kubahasakan sebagai ketentraman di kaki gunung, dengan apa yang kucerna sebagai kesibukan orang-orang modern di jalan raya perkotaan. Memang, jadinya sebuah generalisasi yang kadang mendakwa tanpa tedeng aling-aling. Namun, ya, begitulah. Kadang kesibukan di kota membuat kita lupa pada hal-hal ukhrowi. Contohnya, mungkin akulah salah satunya...

Sekarang, aku tidak lagi keranjingan oleh sepakbola. Namun, ternyata, berapa banyak hal lain yang kini aku gumuli—yang digumuli dan terus tergumuli lalu jadilah kelakuan serta kegemaranku, hal-hal “takpenting” sebagai gantinya sepakbola?

Wahai, Pembaca yang Budiman, maafkan bila Anda sudah membaca hingga paragraf terakhir ini. Karena ternyata aku, sang penulisnya, hanyalah seorang abdi yang bandel. Betapapun, aku ingin berdoa, semoga waktu yang Anda sisihkan barusan taksia-sia.

Di rumah, 10 Juli 2007

Di sebuah malam yang hanya sekali

dan takkan pernah kembali

Kamis, Agustus 2

*7 Keajaiban dunia*

Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari 'Tujuh Keajaiban
Dunia'.
Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang
mereka pikir merupakan 'Tujuh Keajaiban Dunia' saat ini. Walaupun ada
beberapa ketidak sesuaian, sebagian besar daftar berisi sbb :
1] Piramida
2] Taj Mahal
3] Tembok Besar Cina
4] Menara Pisa
5] Kuil Angkor
6] Menara Eiffel
7] Kuil Parthenon
Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang
pelajar, se orang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas
kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan
daftarnya. Gadis pendiam itu menjawab, 'Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena
sangat banyaknya 'keajaiban itu'. Sang guru berkata,'Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya'.
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, 'Saya pikir, 'Tujuh Keajaiban
Dunia' itu adalah :
1] Bisa melihat,
2] Bisa mendengar,
3] Bisa menyentuh,
4] Bisa menyayangi,
5] Bisa merasakan,
6] Bisa tertawa, dan
7] Bisa mencintai
Ruang kelas tersebut sunyi seketika. *Alangkah mudahnya bagi kita untuk
melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya 'keajaiban'.
Sementara kita
lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita
menyebutnya sebagai 'biasa'.

Mulai Ga Nyambung Neh....

TOBY, begitulah mereka memanggilku. Diantara kita berempat mungkin
akulah yang paling aneh menurut mereka (tapi urang mah teu ngarasa
kitu, teuing ah). Sudah hampir delapan tahun kita bersama, suka duka,
canda tawa, konflik, dan beberapa perjalanan rihlah (ripuh jeung
lelah) pun pernah kita alami. Sebetulnya pertemuan pertama kita tak
ada yang tahu pasti kapan, kira kira sewaktu kita kelas dua es em a
lah kita dipertemukan satu persatu oleh Sang Pemelihara Alam ini. Kita
tidaklah berasal dari sekolah yang sama, aku menghuni sekolah yang
cenah mah rada dicoret posisina ti kota bandung, ciwastra, begitulah
nama daerahnya. Awal mula kenalan dengan mahluk yang namanya William,
Andrew, dan Adrian sebenarnya melalui perantara barudak mountaba (ti
ngarana oge geus kanyahoan mun eta teh pasti pe a alias pecinta alam
soalna aya kata mount-na). William dan Andrew satu sekolah di es em a
sabarahanya? poho deui urang euy tapi mereka yang pasti bukanlah pe a
terdaftar di sekolah mereka (ngan karesepna siga budak pe a),
sedangkan Adrian di sekolah yang berbeda memang terdaftar di pe a
sekolahnya yang bernama girilaya. Oke oke cukup untuk prolognya
(soalna mun terus dicaritakeun naon wae ti mimiti wawuh nepika ayeuna
mah moal beres sabulan nyaritakeunana jeung moal beres sataun ngetikna
oge, nya enya lah).
***

KURUN waktu hampir delapan tahun membuat kita sudah saling merasa
seperti saudara sendiri, namun sepertinya ada yang tidak beres dengan
"persaudaraan" kita ini. Mungkin karena merasa memiliki ikatan emosi
yang sangat kuat dibandingkan dengan teman teman dari dunia kita
masing masing sehingga ini suka disalahgunakan oleh kita (terutama ku
urang). Sori bro, harus kita akui semua bahwa "persaudaraan" kita ini
suka dijadikan ajang ngandelkeun dan yang paling seringnya (terutama
urang) mengenai masalah duit. Aku sering meminjam uang ke Andrew (ke
yang lainnya juga sih, tapi ke Andrew yang lebih utama) dan dengan
sistem gali lobang tutup lobang kalau yang nominalnya kecil sih bisa
langsung ditanggulangi saat itu juga tapi untuk yang nominalnya agak
besar sampai sekarang ironisnya belum bisa tertanggulangi (hampura nya
bro). Padahal sebenarnya pada saat saat tertentu nominal tersebut
sudah aku miliki cuman ga tau kenapa terpakai lagi dan lagi. Setelah
melakukan perenungan (gaya lah bahasana) ternyata dari rasa "dekat"
itulah aku sering menyepelekan Andrew, dengan dalih ah si eta mah
kalem lah, engke deui we soalna aya kebutuhan nu rada perlu yeuh
ayeuna ayeuna teh, Astaghfirullah.......

Ini hal sepele tapi sebenarnya bikin hubungan kita jadi ga sehat
(maenya nginjeum duit nepika mang taun taun teu dibayar wae) dan yang
lebih kutakutkan lagi ini menjadi gep hubungan kita atau bisa jadi
malah menghancurkan mahligai persahabatan (naon deui eta bahasa teh)
kita yang aku pikir jarang ada persahabatan yang bisa bertahan dengan
angka delapan tahun, nya kan, nya laaah...(maksa pisan). Itu mungkin
kesalahan (lain meureun tapi emang enya deui) yang fatal yang
kuperbuat pada Andrew (semoga Andrew diberikan kesabaran dan yang
pastinya kelapangan dada oleh Allah dalam menghadapi kondisi ini,
Amin). Bro, aku yakin kamu bisa mengerti hal ini (atau pura pura
ngerti tapi sabenerna mah keuheul pisan, ah su'udzon maneh, teu
meunang kitu bel). Aku mulai memperhatikan masalah ini dengan serius
sekarang sekarang ini, dan akan ku coba benahi pikiran busukku itu
padamu (Insya Allah urang moal ngagampangkeun deui ka maneh, okei
bro). Dan mengenai ketakutanku tentang hancurnya mahligai persahabatan
(tuh nya sia mah diulang deui eta bahasa teh) kita gara gara masalah
ini semoga itu semua hanya hayalan liar yang berlebihan saja (beuki
teu nyambung sia mah ngetik teh).
***

ADA hal lain belakangan ini yang mulai kuperhatikan dan mungkin ga
pernah diperhatikan (sekali lagi ini cuman prasangka diriku saja) baik
oleh Andrew, William, dan juga Adrian yaitu kayanya umat muslim di
dunia terutama di indonesia mulai terpecah belah (siga piring wae atuh
pecah belah) dalam hal mahzab (sabenerna penting kitu bermahzab teh
pan islam mah ngan hiji, naha jadi papisah kieu nya). Ini yang
menurutku menjadi hal yang sangat sensitif untuk kita bicarakan
bersama sekarang sekarang ini. Pernah suatu hari aku bertanya pada
seseorang kenapa ya kok jadi gitu sekarang, eh dia malah ngejawab nya
emang kunaon kitu teu nanaon atuh (bari nada omonganana teh tinggi
pisan ditambah beungeutna nu sinis ka urangna). Disadari atau tidak
ini salah satu faktor yang menurutku membuat bangsa ini bukannya maju
malah berada diambang kehancuran (edan lah cara analisana), bayangkan
saja kalau tiap orang merasa mahzabnya yang paling benar dan
menganggap mahzab yang lainnya menyimpang atau sesat bahkan menganggap
yang lainnya itu kafir (Astaghfirullah...) maka bukan saja perpecahan
tapi ini bisa menyulut peperangan diantara kita yang ya ampun plis deh
kita itu seiman, mikir dong mikir (kalem kalem ngadat sih ngadat tapi
ulah bari ngabahekeun kopi kitu atuh, pan jadi cepel karpetna).

Fenomena lainnya yang tak kalah memperihatinkan yaitu makin banyak
orang yang mengutamakan materi keduniawian di atas segala galanya. Dan
yang membuatku miris yaitu mereka kebanyakan adalah mereka yang
mengaku dirinya sebagai muslim (jangan jangan aku juga termasuk
seperti mereka lagi, Ya Allah berilah hamba cahaya yang dapat
membimbing hamba menuju keridhoanMu). Ingin sekali aku berkata pada
mereka dengan ucapan, gais, mari kita kembali ke jalan yang betul,
belum terlambat bagi kita semua untuk kembali menjadikan Al Quran dan
As Sunnah sebagai pedoman hidup kita, dan bukan yang lain, bukan pula
segala kesenangan di dunia ini. Meskipun ada hadits yang menyebutkan
bahwa kita harus mencari hal hal keduniawian tapi itu bukan menjadi
alasan untuk berpaling pada perintahNya dan malah mendekati
laranganNya (halloooow, betul tidak ini teh, kenapa jadi pada diem
kaya gini).

Banyak sekali orang yang dahulunya begitu fakir lalu dia berusaha
untuk mencari hal hal keduniawian dengan dalih supaya dia bisa
menggunakan hal hal keduniawian tersebut untuk keperluan di jalan
Allah tapi ternyata dia malah terlena oleh semua hal keduniawian yang
dimilikinya itu. Hal hal yang dulunya ia tentang ketika dia masih
fakir tapi ketika dia sudah memiliki fasilitas yang lebih ketimbang
kehidupannya yang dulu malah dia benarkan (Naudzubillahimindzalik...)
pada saat sekarang. Dan yang lebih parah lagi kita yang mengetahui
perubahan tersebut malah mendiamkan mereka seolah kita pun mendukung
perbuatannya, bukannya menasehati mereka agar meminta ampunanNya dan
mengajaknya kembali ke jalan yang diridhoiNya seraya meninggalkan
semua hal hal semu yang membuat kita terlena di dunia yang fana ini.
Ada apa sebenarnya dengan kita semua? Apakah ego kita lebih berharga
ketimbang rahmat serta maghfirohNya?

Aku bukanlah orang suci yang tak pernah melakukan kesalahan, dan
justru sebaliknya aku adalah mahluk paling hina di dunia ini
(meureun), kalau soal dosa sih mungkin dari semua muslim yang ada di
dunia ini mungkin akulah yang paling banyak dosanya (sakali deui
meureun ieu mah jeung pang pangna mah lain bangga urang ngomong kieu
teh, ngan sugan we bisa dicokot hikmahna ku sarerea terutama ku urang
sorangan) tapi perlahan aku mulai melakukan perenungan (dua kali cenah
ngaluarkeun bahasa nu gaya teh, mun nepi ka tilu kalina bakal meunang
gelas siah) terlebih beberapa saat kemarin aku hampir mati, ya, aku
benar benar hampir mati sehingga mau tidak mau aku jadi mulai itung
itungan amal yang telah kulakukan dibandingkan dosa yang telah
melumuri tubuhku ini (pekna teh loba dosana geuningan, ampuni segala
kesalahan hamba baik yang disengaja maupun yang tak disengaja Ya
Allah). Aku pun mulai mencari kembali hidayahNya sambil berharap
kiranya sudi bagi Allah untuk mengembalikan diriku kembali ke jalan
yang diridhoiNya dan satu yang pasti jikalau aku kembali dihadapkan
pada yang namanya kematian (dan bukan hampir tapi benar benar mati)
maka aku berharap aku mati dalam keadaan husnul khotimah, Amin.

Sebenarnya aku tak butuh idealisme itu, idealisme tai gukguk (sengaja
dipilih bahasa yang agak halus dikarenakan sekarang begitu ketatnya
badan sensor ulama indonesia dalam melakukan penyeleksian kata kata)
yang malah membuat kita semua bahagia di dunia dan sengsara di
akhirat. Aku rindu pada diri kita semua waktu pertama bertemu dulu,
pada diri yang yang begitu polos yang belum terkontaminasi oleh hal
hal yang membuat kita menjadi kumaha aing (enya da persib nu aing),
yang membuat kita menjadi saling su'udzon kepada yang lain, yang
membuat kita bengis, yang membuat kita semua tak peka terhadap sekitar
kita, dan yang pasti membuat kita menjadi tidak pernah lagi tertawa
terbahak bahak entah untuk apa yang penting tertawa (beuki kolot siah
manyun wae mah). Ada apa sih, ngomong dong ngomong (ulah dipendem wae
sagala sesuatuna teh bisi jadi busiat pan rujit jadina, kaluarkeun we
atuh). Oh ya satu lagi ketang, aku sangat rindu dengan rihlah (ripuh
jeung lelah) bersama kalian yang dulu selalu menjadi agenda utama
(konperensi kali pake agenda utama segala) dalam hidup kita (hayu atuh
urang naek gunung deui da teu haram meureun hukumna oge).
***

SEBENARNYA masih banyak hal hal lain yang ingin aku sampaikan, tapi
berhubung keterbatasan cara penyampaian dariku yang rada pabeulit jadi
bisi jadi ngacapruk teu puguh engkena ya mungkin untuk sementara ini
saja yang bisa aku sampaikan dulu, mudah mudahan ditulisan berikutnya
bisa lebih digarap lagi (sawah meureun digarap). Moga moga ini menjadi
alat propokasi (maklum urang sunda jadi we hurup pi-na jadi pe, tapi
mending ketang coba mun make bahasa arab teuing jadi naon tah tulisan
teh) komunikasi kita yang pada kenyataannya mulai jarang ketemu atau
paling banter nanya kabar lewat es em es doang, harapannya sih
meskipun jarang ketemu kita tetep bertukar informasi, pendapat, atau
yang aku sangat kangenkan adalah "curhat" kita berempat yang mungkin
sudah menjadi bid'ah dalam hubungan kita (meureun) lewat imel yang aku
yakin itu bukanlah hal yang tabu untuk kita lakukan semua mengingat
dunia maya (lain duniana bu maya nya, omat siah) merupakan makanan
utama kita setelah nasi (tapi teuing ketang sigana akses ka dunia maya
teh ayeuna malah jadi pangabutuh utama salian ti kejo nya jeung urang
urang mah, teuing ketang, teuing ah).

Dan untuk lebih transparannya jeroan hati kita, aku harap baik Andrew,
William, dan Adrian masing masing memberikan tanggapan, cacian,
makian, hinaan, atau bahkan fatwa (meureun) dari keluh kesah gundah
gulanaku ini (tong poho ngirimkeun imelna langsung ka opatan tong ngan
ka saurang saurang, meh euweuh omongan ditukang bisi jadi fitnah, keun
we omongkeun, bebaskeun lah sagala uneg uneg urang sarerea nya). Dan
por de lis bat nat por de las aku sayang kalian, sumpeh deh gue. Aku
berharap kita tetap mempererat Ukhuwah Islamiyah ini, Amin.

-tiga nol mei dua nol nol tujuh-

Nb: pemberian nama teh bukannya ingin kebarat baratan (nyaho sorangan
meureun, nulis kata kata bahasa inggrisna oge teu baleg, asal bitu we
dina cangkem), tapi tadinya rek dijieun siga cerpen kitu ngan dasarna
teu belul nyieuna jeung pas dibaca deui ku urang naha ngadon jadi
carpruk (carita ngacapruk) nya. Mungkin aku akan lebih berlatih lagi
supaya mahir menyituasikan tulisan seperti ini menjadi cerpen yang
enak untuk dibaca (geus ah sia mah ngacapruk wae). Jika ada kesamaan
tokoh maupun peristiwa dalam cerita ini itu memang kesengajaan.



TERIMA KASIH kepada:

Allah Subhanahuwata'ala
seperangkat pi si intel pentium opat dua giga
monitor seken euweuh merekan pleus kaca anti radiasi
dua buah spiker teuing naon merekna
ol artis di pleylis winem nu matak nyieun gandeng di kamar urang
kibor jeung mosna
babaturanana eta komputer nu teu bisa disebutkeun hiji hiji
Mars Brand Super Tobacoo pleus Buffalo Bill Cigarettes Paper
Tokai warna hejo pleus asbak warna pingna
kopi Kapal Api Spesial Mix
cai panas paranti ninyuh kopina
pisang goreng pleus singkong goreng buatan ibuku
sagala bentuk jajablogeun nu teu bisa disebutkeun hiji hiji
motor Honda model Kharisma 125 D kaluaran taun dua rebu tilu
perlengkapan naik motor lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu
sapedah United model Exotic nu geus dimodip ku urang meh siga monten baik
perlengkapan sasapedahan yang tidak bisa disebutkan satu per satu
barang barang laina nu teu bisa disebutkeun hiji hiji
semua media massa yang telah menggetarkan nuraniku dengan segala beritanya
semua buku bacaan di perpustakaanku yang ceuk batur mah teu penting
ol de pipel nu mere kontribusi jeung tulisan ieu
kopiraig dua rebu tujuh bukan milik siapa siapa (segalanya hanya milik
Allah)
(ari sia teh nyieun tulisan atawa nyieun pilem meni make nu kieu sagala)