Selasa, Agustus 28
“Bualan” Ajo Sidi buat Kakek Garin
Oleh Wildan Nugraha
MUNGKIN, untuk situasi kita sekarang ini cerpen “Robohnya Surau Kami” AA Navis adalah contoh karya yang makin menemukan aktualisasinya. Dalam cerpen ini, melalui “bualan” tokoh Ajo Sidi, disebutkan bahwa bumi Indonesia adalah mahakaya-raya, namun manusianya malas-malas, saling berkelahi, saling menipu, saling memeras antara mereka sendiri sehingga hasil tanahnya orang lainlah yang mengambil.
“Robohnya Surau Kami”, karya salah seorang pengarang terbaik kita, Ali Akbar Navis (17 November 1924–22 Maret 2003), menceritakan Kakek Garin, seorang penjaga sekaligus imam surau yang taat beribadah. Hingga usia tua dia hidup membujang. Ia mendapatkan uang dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat, dari bagi hasil pemunggahan kolam ikan yang terletak di depan surau, dan dari fitrah Id warga kepadanya sekali setahun. Ia juga kadang mendapat upah dari kepandaiannya mengasah pisau dan gunting, namun kepandaian ini tidak dijadikannya profesi, tapi hobi semata.
Semua “baik-baik saja” sebelum suatu kali Ajo Sidi, seorang pembual, mengunjunginya minta diasahkan pisau. Dan tragis, beberapa hari kemudian, Kakek Garin didapati bunuh diri, menggorok leher sendiri. Tokoh “Aku”—sebagai pencerita—merasa pasti bahwa penyebab kemuram-durjaan Kakek adalah tersindir oleh dongengan Ajo Sidi. Dalam bualannya, Ajo Sidi menceritakan orang-orang yang sudah berpulang. Ia bercerita tentang Haji Saleh yang bersama sekian banyak orang “saleh” lainnya (bahkan ada yang sudah sampai empat belas kali ke Mekkah dan bergelar syekh pula) kena murka Tuhan di Padang Mahsyar, dan akhirnya harus masuk ke neraka, padahal mereka merasa sebagai umat yang paling taat beribadah, menyembah, menyebut, memuji-muji kebesaran Tuhan, mempropagandakan keadilan-Nya, bahkan “kitab-Mu pun kami hafal di luar kepala kami”. Kritik Tuhan tajam ke kepada Haji Saleh dan teman-temannya: “Aku beri kau negeri kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena peribadatan tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat.”
“Robohnya Surau Kami” mendapat tanggapan luas sejak pemuatannya di majalah Kisah tahun 1955. Cerpen ini memang bisa disebut kontroversial, ada yang setuju ada yang tidak. Bahkan di Malang Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dan organisasi Islam lainnya menggelar seminar khusus untuk menilai cerpen ini. Di Yogyakarta, HMI Universitas Gajah Mada mengadaptasi cerpen ini dalam sebuah lakon ke atas pentas. Lakon ini dimainkan secara monolog oleh seorang pemain dan suara Tuhan keluar dari loudspeaker.
Yang hendak disampaikan AA Navis memang bukan sesuatu yang “nyaman”. Melalui cerpen ini, menurut Adilla (2003), Navis secara kritis melihat situasi kehidupan beragama masyarakat kita yang memandang ibadah itu terbatas pada mengaji, puasa, naik haji, dan shalat. Navis menawarkan bahwa kerja itu juga ibadah. Bekerja dengan tekun pada jalan yang baik, mengolah hasil bumi, kekayaan alam, atau memahami gejala alam untuk ilmu pengetahuan juga ibadah. Lebih jauh, tambah Adilla, kehidupan akhirat merupakan hasil usaha umat manusia di dunia. Usaha di dunia berarti menghidupi diri dan saudara-saudara yang lain dalam rangka mencari kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Usaha untuk kehidupan dunia dan akhirat haruslah seimbang. Atau seperti pernah dikatakan kritikus Sapardi Djoko Damono, melalui cerpen ini, “Navis mengingatkan kita akan pentingnya mencari nafkah, bekerja keras, mengucurkan peluh di dunia ini—di samping menyebut-nyebut dan memuji nama Allah. Kerja keras adalah bagian penting dari ibadah kita.”
Kiranya jelas, Navis melalui “Robohnya Surau Kami” telah dengan tajam melukiskan betapa agama kehilangan spiritnya manakala ia dihayati semata-mata sebagai seremoni, sebagai ritual rutin. Pandangan Navis ini dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Islam yang berkembang di kalangan ulama muda di Padangpanjang, kota kelahiran dan tempat ia menghabiskan masa remajanya. Navis seolah hendak menyindir mereka yang cenderung mengambil jalan fatalis dalam hidupnya, “takut” serta “pasrah” terhadap apa pun ketentuan-Nya, namun tanpa disadari mengarah juga terhadap sikap egois dan individualistik yang justru tidak searah dengan semangat Islam. Dalam biografinya yang dikerjakan Abrar Yusra (1994), Navis berkata di antaranya: “Sikap agama dan budaya Islam di Indonesia mulanya amat dipengaruhi oleh tarikat. Orang-orang tarikat berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, bahkan menyatukan diri. Di situ amalannya, hanya itu. Maka tak ada pilihan lain. Karena itu orang Islam di Indonesia tak berkembang pemikirannya. Orang hanya menghabiskan waktu untuk zikir, takbir, dan lain-lain. Kepedulian sosial jadi tumpul. Dinamika hilang. Tak mengherankan jika kondisi mereka miskin. Kalau ada orang yang berbeda, yang berbuat lain, maka dipandang bersifat duniawi.”
Di sisi lain, seperti pernah ditulis oleh Umar Junus (1994), sebenarnya “Robohnya Surau Kami” adalah cerpen yang silepsis (ambigu). Tokoh “Aku” memang menolak pandangan kolot Kakek, malah membencinya, namun sekaligus ia menyayangkan kematiannya, kematian yang menyebabkan “surau kami” roboh dan hilangnya syiar agama. Pun terhadap Ajo Sidi: ia tidak menyangkal “kebenaran” dongeng Ajo Sidi; tapi sekaligus menganggap Ajo Sidi sama sekali tidak bertanggung jawab. Saat tahu Kakek Garin meninggal, Ajo Sidi tetap pergi kerja dan hanya meninggalkan pesan kepada istrinya agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.
Haidar Bagir, dalam wawancara sebuah harian Ibu Kota beberapa waktu yang lalu, berkata bahwa dia pernah menulis artikel tentang pendidikan agama kita yang gagal. Kata pemimpin Mizan itu, meski banyak orang pergi haji, umrah, zikir akbar, ternyata sebagai bangsa kita belum juga beranjak lebih baik. Sebabnya karena kita diajar agama hanya dari sisi legal formalistik—shalat lima waktu sudah jadi muslim yang baik. Pernyataan-pernyataan seperti itu, yang “nakal” seperti juga dari Navis, tentu tidak harus dipusingkan karena justru berharga. Barangkali di antaranya yang tersirat dan penting terus dikejar: apakah ritual-ritual itu termanifestasikan dalam akhlak? Karena toh banyak koruptor shalat. Bila shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar, tentu bukannya berarti kegemaran korupsi tidak keji dan mungkar—hanya karena rasanya kita belum pernah mendengar ada koruptor dipukuli lalu dibakar massa seperti maling sepatu bekas?
“Robohnya Surau Kami” disebut-sebut pengamat sastra sebagai salah satu cerpen bernuansa Islam terbaik dengan warna Indonesia. Ia dipublikasikan pertama kali lebih dari limapuluh tahun silam; telah berusia tua, tapi tetap aktual—bila bukan semakin aktual saja karena “Haji Saleh dan kawan-kawannya” ternyata banyak saja di Tanah Air?
Bandung, 2 Mei 2007
Buku Bacaan:
Adilla, Ivan. 2003. A.A. Navis: Karya dan Dunianya. Jakarta: Grasindo.
Junus, Umar. 1994. “Navis dan/sebagai Teks/Wacana: Kemarau yang Mengg/Halang Robohnya Surau Kami” Otobiografi A.A. Navis Satiris dan Suara Kritis dari Daerah. Ed. Abrar Yusra dan Priyo Utomo. Jakarta: Gramedia.
Navis, A.A. 2002. Robohnya Surau Kami. Jakarta: Gramedia.
Yusra, Abrar. 1994. Otobiografi A.A. Navis Satiris dan Suara Kritis dari Daerah. Jakarta: Gramedia.
(Esai ini dimuat di Sabili No 3 Th XV 23 Agustus 2007/10 Sya’ban 1428)
Wildan Nugraha, kelahiran Bandung, 12 September 1982. Kuliah di Faperta, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Padjadjaran. Bergiat di Forum Lingkar Pena Bandung. Tulisan-tulisannya berupa cerpen, esai dan tinjauan buku dimuat di Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Galamedia, Radar Bandung, Sabili, Annida, Buletin Wanadri. Tinggal di Jl Leuwi Anyar VII No 37, Bandung 40234. Telepon: 022-5226967. HP: 0817613420. Juga dapat dikontak melalui email: wildanugraha@yahoo.com, dan wildan.nugraha@gmail.com. Nomor rekening: 0023033767 BNI Cabang Unpad Bandung a.n. Wildan Nugraha.
=================
Kunjungi bila Anda luang, http://titikluang.blogspot.com
“TITIK LUANG semesta lapang pertemuan. Kita saling menjamu di sini. Duduk rehat sesekali seperti pelancong berbagi bekal dan cerita hari kemarin, di kaca kedai atau punggung bukit. Menarikhembuskan napas di titik biasa, selagi luang, selagi lapang.”
pena telah diangkat dan tinta telah mengering
“Ketidaksamaan yang aku pahami adalah ketidakserupaan yang agak artifisal, bila ini menyangkut keberislaman. Maksudku, soal akidah memanglah soal yang satu: Tiada Tuhan Selain Allah! Namun, penjabaran inti ajaran Islam itu ternyata belum juga bisa dibuat sama. Belum ada dibuat satu panduan universal yang kudu dijalankan sama dan seragam oleh setiap muslim bila dia ingin benar-benar Islam! Yang ada hanya Al-Quran dan Sunnah. Dua panduan yang ditetapkan Allah untuk kita pikirkan sebelum kita jalankan. Sehingga, dan memang demikian, Islam tidak seperti Marxsisme—bukan sebuah isme, takbisa disetarakan dengan isme-isme ciptaan manusia, yang ternyata kadang otoriter dan punya perangai menggasak.”
Waduh, gagah sekali rasanya saya! Tapi kok jadi merinding sendiri. Seram. Takut. Tapi saya enggak bisa ngapa-ngapain, misalnya mengumumkan pada dunia bahwa saya menggigil karena takut oleh kepongahan saya sendiri menulis sesuatu yang sebenarnya saya tidak kuasai sepenuhnya; bahwa waktu itu saya menulis karena dibarengi emosi yang agak menclak sana menclok sini karena ada sesuatu keajegan yang tengah kubangun namun terusik dalam perjalanannya. Lalu itulah dia, pena telah diangkat dan tinta telah mengering. Semoga kawan-kawan dan pembaca budiman—siapa pun engkau—adalah orang-orang pintar nan cerdas yang mau mengerti serta menerima bahwa saya memang bodoh dan terlalu banyak maunya.
Tabik!
wn
Rabu, Agustus 22
Hingar bingar ... mungin ada dipasar ...
Selasa, Agustus 14
UKHUWAH
(maaf jika ada kesalahan, mohon dikoreksi)
Jumat, Agustus 3
Keberagaman atau Keseragaman?
Keberagaman atau Keseragaman?
“Sepakbola telah jadi olahraga yang begitu populer di muka bumi ini, siapa yang tak kenal David Beckham, selain pesepakbola profesional, dia juga sudah merambah ke dunia selebritis”.
Apalagi sebagian warga Inggris begitu fanatik dengan olahraga ini, sampai-sampai mereka menganggap sepakbola sebagai ‘agama’ kedua mereka atau mungkin sudah menjadi ‘agama’ resmi mereka. Walupun masih menjadi perdebatan mengenai genesis Inggris sebagai negara yang menemukan sepakbola.
Sepakbola selalu mengundang emosi, fanatisme dan bahkan acapkali disertai tindakan-tindakan kasar para fans sepakbola, mempunyai susunan organisasi global yang tangguh, dengan anggota lebih banyak ketimbang anggota PBB. Begitulah menurut Bill Muray sebagai pakar sejarah olahraga tentang sepakbola.
Sama seperti cerita temanku yang mulai keranjingan sepakbola saat SMP, maka akupun awalnya memulai tertarik dengan olahraga tersebut waktu di bangku SMA, lalu saat menginjak ke jenjang perkuliahan semangat untuk terus mengikuti informasi dan bermain si kulit bundar ataupun rada lonjong dikit karena bahannnya terbuat dari plastik.
Dan terbukti apa yang dikatakan oleh Muray, bahwa sepakbola selalu mengundang emosi dan lain sebagainya. Saat aku bermain dengan teman-temanku, emosi tersebut secara otomatis keluar, naluri untuk melakukan tindakan yang diluar kendalipun muncul.
Tapi itulah permainan, walaupun secara naluriah sesuatu dapat muncul secara spontan namun semuanya kembali akan diatur sesuai dengan aturan main yang ada dan kita diminta menggunakan akal serta nafsu kita juga harus dikendalikan. Tentunya ada ‘wasit’ yang mengawasi jalannya permainan, memberikan hukuman bagi setiap pelanggaran, sampai kepada menghentikan sebuah pertandingan yang sedang berlangsung. Apa jadinya bila tidak ada ‘wasit’?
Sementara ada suporter sebuah tim sepakbola yang bermarkas di Paris van Java yang selalu mencela wasit dengan kata “wasit go---ok” bila keputusan yang diambil ‘merugikan’ pihak tuan rumah. Ternyata bukan kapasitas suporter, ataupun pemirsa televisi, termasuk saya bila menonton suatu pertandingan sepakbola untuk memberikan sebuah penilaian terhadap official pertandingan. Ada yang berhak untuk melakukan penilaian tersebut. Bukan berdasarkan hawa nafsu. Ya, itulah manusia.
Itulah uniknya manusia, mereka diberi akal. Manusia disebut manusia karena dia dapat dilihat dengan mata atau karena ia memiliki gerakan lahir dan batin. Dengan akalnyalah manusia menciptakan suatu permainan berikut aturan-aturannya. Sepakbola adalah urusan dunia, sepakbola akan menjadi agama bila dijadikan pegangan oleh manusia. Sebab, apapun yang namanya peraturan, undang-undang, syariat, pola fikir dan amal yang dijadikan pegangan manusia, akan menjadi agama (dien) bagi orang yang mengikutinya.
Jadi, secara bahasa, aturan-aturan yang ada pada sepakbola lalu dijadikan pegangan oleh manusia untuk menetapkan sesuatu, maka dapat disebut dengan agama ‘dien’. Jelaslah bahwa bagi orang Inggris, sepakbola bisa menjadi agama mereka.
Bagi kaum muslimin, semua tentang dien yang telah disebutkan di atas harus bersumber dari Al Quran dan Sunnah yang shohih menurut pemahaman para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya. Dien menurut pandangan Islam adalah apa-apa yang telah ditentukan oleh Allah dalam kitabnya yang bijaksana dan Sunnah Nabi-Nya yang shohih, baik berupa perintah, larangan, maupun petunjuk untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat.
Dari Anas r.a., ia telah berkata; Telah bersabda Rasulullah SAW: “Apabila ada sesuatu urusan duniamu, maka kamu lebih mengetahu. Dan apabila ada urusan agamamu, maka kembalikan padaku.” (H.R. Ahmad). Hadits ini mununjukkan bahwa apapun urusan agama mutlak harus mengacu pada Nabi, sementara urusan dunia bebas terserah kita selama tidak diatur oleh agama dan tidak bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah.
Pada dasarnya urusan duniawi boleh, dan tidak terlarang, kecuali ada keterangan yang melarang, mengharamkan, dan bukan mencari dalil yang menghalalkan. Perbuatan yang ditinggalkan Rasullullah SAW ada dua bagian, yaitu: (1) Ada yang menjadi Bid’ah; (2) Ada yang menjadi Maslahat Mursalah.
Bid’ah adalah apa-apa yang ditinggalkan Rasul, padahal ada motif serta perangsang untuk mengerjakannya, dan tidak terdapat kendala untuk mengamalkannya. Jadi, tidak semua perbuatan yang di zaman Nabi tidak dikerjakan kemudian saat sekarang ini dikerjakan otomatis menjadi bid’ah, akan tetapi ada yang menjadi perbuatan Maslahat Mursalah, artinya boleh dikerjakan.
Sedangkan pengertian dari maslahat mursalah adalah apa-apa yang ditinggalkan Rasul, karena tidak ada motivasi pendorong dan perangsang untuk mengamalkannya, sementara terdapat faktor kendala untuk mengerjakannya. Contoh: Upaya membukukan Al Quran, Penggunaan Speaker saat Azan. Untuk jelasnya akan dijabarkan maksud dari upaya membukukan Al Quran, di zaman Nabi ataupun oleh Nabi upaya ini tidak dilakukan, karena tidak atau belum ada motivasi untuk melakukannya ke arah itu, yakni Nabi masih ada dan para Sahabat yang hafal Al Quran masih banyak, disamping terdapat hambatan untuk mengerjakannya, bahwa wahyu masih berangsur turun.
Di zaman Abu Bakar Shiddiq timbul dan berkembang gagasan yang bermula dilontarkan oleh Umar bin Khathab untuk membukukan Al Quran dengan lengkap dan mustahil akan adanya wahyu yang baru atau turunnya wahyu karena Rasul telah wafat. Selain alasan itu, timbul kekhawatiran atau ketidaksinambungan Al Quran, maka dibukukanlah Al Quran di zaman Abu Bakar atas perintahnya.
Perbuatan semacam ini tidak dapat dan tidak boleh dikatakan sebagai perbuatan bid’ah, melainkan tergolong kepada Maslahat Mursalah. Dan olahragapun termasuk ke dalam Maslahat Mursalah karena dilihat dari segi manfaatnya jauh lebih besar dan mudharatnya sangat kecil. Olahraga menjadi terlarang bila mempertontonkan aurat semaunya (baik laki-laki maupun perempuan). Olahraga sepakbolapun terlarang bila laki-laki mempertontonkan auratnya –apalagi perempuan, yaitu di atas lulut pemain sepakbola terlihat aurat, dan bukannya ditutupi.
Aku kira saudara-saudaraku sudah faham dengan masalah ini. Penjelasan di atas hanya untuk memperjelas pandanganku mengenai suatu hal berdasarkan ilmu dan pemahaman yang ku miliki.
Kembali ke sepakbola, kalau kita lihat saat siaran pandangan mata setiap liga professional yang berlaga atau kejuaraan antar negara yang bersifat regional maupun internasional. Ada banyak pemain dengan tim yang berbeda pula berlaga. Pemain sepakbola begitu beragam, berasal dari negara yang berbeda, dengan warna kulit yang berbeda pula, begitupun dengan agama yang berbeda. Disinilah dapat kita lihat bagaimana keberagaman itu dapat bersatu walaupun bahasa yang digunakan oleh setiap pemain berbeda.
Mengingat keberagaman yang akan ku bahas ini, maka kendala bahasa bukan menjadi suatu masalah besar, karena di dalam permainan ini telah ada aturan baku secara internasional dan miss communication sangat kecil sekali terjadi. Begitupun kesolidan permainan suatu tim, setiap pemain sudah paham akan posisi mereka dan tujuan yang akan dicapaipun sudah tertanam di dalam benak mereka.
Allah SWT telah menciptakan manusia dengan berbagai komponen pembentukan, meliputi: ruh (QS As-Sajdah: 9 & QS. Al Hijr: 29), tanah (QS. Al-Hajj: 5), hati (QS. Al-An’am: 25; QS. Al-Baqorah: 7, 74, 78; QS. Al-Anbiya: 3; QS. Al-Ahzab: 12; QS. As-Syuura: 89), akal (QS. Al-Maidah: 58), jasad (QS. Al-Hajj: 29), nafsu (QS. Al-Maidah: 30; QS. Al-Qiyamah: 1-2; QS. Al-Fajr: 27-30; QS. Yusuf : 53; QS. Al-Kahfi: 74), diberi amanah (QS. Al-Ahzab: 72), untuk ibadah (QS. Adz-Zaariyat: 56), dan menjadi khalifah (QS Al-Baqoroh: 30).
Dengan adanya salah satu organ di kepala kita yang rata-rata beratnya hanya 2,5% dari berat badan manusia, kita diberikan kemampuan berpikir dengan menggunakan akal kita untuk beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Kita telah diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Tin ayat 4, komponen di atas sudah ada pada manusia, tinggal bagaimana kita menggunakannya seefektif mungkin.
Selain itu, dalam penciptaan-Nya itulah Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai keragaman sesuai dengan firman Allah SWT: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantar kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”. (QS. Al-Hujarat: 49)
Keberagam itu adalah merupakan tanda kekuasaan Allah SWT sesuai dengan firman-Nya: “Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (QS. Ar-Rum: 22).
Untuk lebih jelasnya, kita lihat tafsir Ibnu Katsir Rahimahullah mengenai Surat Al-Maaidah ayat 48. Allah mulai menceritakan Al-Quranul Azhim yang diturunkan kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran”. Yaitu dengan kebenaran yang tidak diragukan lagi bahwa ia benar-benar berasal dari sisi Allah. “yang membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-kitab”. Yaitu, Kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya yang memuat penyebutan dan pemurnian terhadap kitab Al Quran; Kitab itu akan diturunkan dari sisi Allah SWT kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya, Muhammad SAW.
Maka turunnya Al Quran itu adalah sesuai dengan apa yang diberitakan di dalam Kitab-kitab tersebut (Taurat dan Injil) –kitab yang asli, belum ada perubaha sedikitpun. Masih adakah Kitab-kitab tersebut yang masih orosinil?
Hal itu akan menambah kebenarannya bagi pembacanya; dari kalangan orang-orang yang berpikir, yang tunduk kepada perintah Allah SWT, dan mengikuti syariat-syariat-Nya, serta membenarkan para Rasul-Nya. (diambil dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3, Pustaka Imam Asy-Syafi’i).
Mengenai keberagaman, aku kira analogi di atas sudah cukup. Keberagaman itu adalah salah satu kekuasaan Allah SWT dari seluruh kekuasaan-Nya atas langit dan bumi ini. Dan mohon maaf bila keberagaman disamakan dengan pluralitas ataupun pluralisme yang saat ini digembar-gemborkan oleh kaum JIL dan semacamnya dengan embel-embel nama, entah apalah namanya dengan Ghazwul Fikri yang sedang mereka jalankan, maka kita sudahi saja –Ghawzul Fikri harus dilawan dengan Ghazwul Fikri juga. Dalam beragama hendaklah berpedoman pada dalil, yaitu Al Quran dan Sunnah, jangan bertitik tolak dari guru, madzhab, tempat, organisasi, partai, akal, perasaan dan tradisi.
Kita diberikan akal untuk mengetahui kebesaran Allah SWT, kita telah dipandu dengan adanya Al Quran dan Sunnah. Sebelum itu, kita lihat dahulu apa hak Allah dan hak hamba melalui hadist yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a.: “Rasulullah SAW bertanya kepada Muadz, hai Muadz tahukah kamu hak Allah yang wajib dipenuhi oleh hambanya dan apakah hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda “hak Allah yang wajib dipenuhi hambanya ialah supaya mereka beribadah kepadanya saja dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya sedangkan hak para hamba yang akan dipenuhi Allah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya. (HR Muslim).
Apabila dilihat dari hadits di atas bahwa jelaslah hak Allah adalah untuk diibadahi dan tidak disekutukan (ditauhidkan), sedangkan hak hamba-Nya adalah tidak akan disiksa atau diazab. Ibadah pada dasarnya terdiri dari dua aspek, yaitu: (1) niat, yaitu hanya semata karena Allah dalam melaksanakannya. Harus ikhlas dalam menunaikannya; (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW (Sunnah).
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah, dan taatlah kamu kepada Rasul dan pemimpin-pemimpin kamu, apabila kamu saling berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu sebaik-baik dan sebagus-bagus akibat”. (QS. An-Nisa: 59).
Dalam tafsir Ibnu Katsir, maksud dari “apabila kamu saling berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah perkara itu kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), mujahid dan banyak ulama salaf berkata: “Artinya kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Hal ini merupakan perintah dari Allah SWT, bahwa setiap sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia, baik tentang ushuluddin (pokok-pokok agama) maupun furu’-furu’nya (cabang-cabangnya).
Bila kita berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah, insyaallah kita akan melakukan ibadah sesuai dengan standardisasinya. Karena kedua panduan itulah yang akan membawa kita selamat di dunia dan akhirat. Al Quran dan Sunnah adalah panduan universal bagi seluruh umat muslim di seluruh muka bumi ini. Tidak ada alasan untuk mengkambinghitamkan “penjabaran ataupun panduan universal”. Karena Metodenya Sudah Jelas, Metode memahami Al Quran, yaitu: Ayat ditafsirkan dengan ayat, Al Quran ditafsirkan oleh Sunnah, Tafsir ayat oleh pemahaman Sahabat, dan Tafsir ayat oleh komentar/pemahaman Tabi’in (setiap orang yang bertemu dengan sahabat meskipun tidak sampai bergaul dengannya).
Contohnya adalah perintah sholat yang ada dalam Al Quran, sedangkan tatacaranya (kaifiyat) tidak di atur dalam Al Quran. Untuk mengetahui kaifiyat sholat maka kita hendaklah berpegang teguh pada hadist-hadits yang shohih tentang kaifiyat sholat tersebut. Karena ini berlaku universal, sebab Rasul menerima wahyu yang memerintahkan sholat, namun saat wahyu tersebut turun Rasul tidak langsung melakukan perintah tersebut karena belum tahu kaifiyat sholat.
Singkat cerita, turunlah Jibril yang diutus oleh Allah untuk mengajarkan atau memberi contoh kepada Rasul tentang kaifiyat sholat. Saat itu Rasul berada di samping kanan Jibril dalam posisi sejajar. (Ini dijadikan patokan saat kita sholat berjamaah dengan makmum yang hanya satu orang, imam berada di sebelah kiri makmum dan posisinya sejajar). Jadi, Rasul diajarkan tentang kaifiyat sholat oleh Jibril sesuai dengan waktunya shalat. Dapat juga disimpulkan bahwa dalam beribadah itu menunggu perintah dan ada contohnya.
Adapun Sunnah adalah setiap apa yang ditinggalkan (diterima) dari Rasul SAW berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat fisik atau akhlak, atau peri kehidupan, baik sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, seperti Tahannuts yang beliau lakukan di Gua Hira atau sesudah ke Rasulan beliau. Sedangkan hadist menurut syariat adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dari perkataan, perbuatan, taqrir, atau sifat. Menurut Ibnu Taimiyah Rahimahullah, Hadits adalah seluruh yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW sesudah kenabian Beliau atas perkataan, perbuatan dan ikrar Beliau. Pada dasarnya Sunnah tidaklah sama pengertiannya dengan Hadits.
Sunnah, sesuai pengertiannya secara bahasa adalah ditujukan terhadap pelaksanaan agama yang ditempuh, atau praktek yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dalam perjalanan hidupnya, karena Sunnah secara bahasa berarti Al-Thoriqah, yaitu jalan, jalan yang telah ditempuh (jalan kehidupan).
Sedangkan Hadits itu bermakna khobar (khabar), dan setiap kabar/berita itu ada yang shohih dan ada yang tidak shohih. Sedangkan Sunnah itu Hadits Shohih yang berhubungan dengan pelaksanaan agama yang ditempuh atau praktek yang dilaksanakan Rasulullah SAW dalam perjalanan hidupnya.
Untuk itulah diperlukan ulumul hadits, kita harus mempelajari ilmu hadits. Untuk saudaraku, janganlah mengerutkankening terlebih dahulu membaca atau mendengar kata ilmu hadits, karena ilmu ini pada prakteknya sangat mudah untuk dipahami dan dipelajari. Kita harus tertarik terlebih dahulu untuk menggalinya, dari ketertarikan atau keingintahuan itulah akan timbulnya semangat untuk belajar. Sekali lagi, jangan dianggap susah, karena sekarang sudah ada cara yang cepat untuk memahami hadits tersebut dengan poin-poin utamanya terlebih dulu. Insyaallah.
Insyallah kemurnian Al Quran akan terjamin selamanya, karena Allah yang menjamin di dalam Al Quran. Serta telah diwariskannya Sunnah dari Rasul kepada kita, kita tinggal mencari mana hadist yang shohih dan mana hadits yang tidak shohih. Maka, timbullah keseragaman dengan acuan pada keseragaman penggunaan panduan. Generasi terbaik adalah generasi Sahabat, namun Rasul pernah berkata bahwa generasi setelah wafatnya aku yang tantangannya lebih berat, sebab di tidak dapat melihatku ataupun bertanya kepadaku mengenai suatu permasalahan. Namun, dengan keikhlasan dan ilmu yang mereka miliki mereka tetap yakin untuk melakukan ajaran Islam yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah.
Masih banyak lagi hal-hal yang harus dipelajari, akupun masih banyak yang perlu diperbaiki dan dikaji lebih lanjut. Ada yang namanya Ulumul Quran, Ushul Fiqh, Mustholah Hadits, dan masih banyak lagi.
Tulisan di atas hanyalah gambaran umum saja, silahkan saudaraku sekalian menggali lagi dan berdiskusi dengan menggunakan metode atau kaedah yang baku, karena saudaraku sudah banyak yang keranjingan, entah itu keranjingan membaca, menulis, atau hanya sekedar beli buku, agar kelihatanya punya banyak buku, tapi semoga buku itu dapat diwariskan kepada anak cucu kita, walaupun kita tidak mampu membacanya (Buku yang mana?) –Ah, sudahlah, jangan mengkritik diri.
NB:
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa pengamalan ibadah kita banyak ragamnya, baik shalat, shaum, haji, dll. Tentu saja dalam hal ini perlu dicari jalan keluarnya dan bagaimana pemecahannya.
Menurut Ustadz Aceng Zakaria, umat islam terdapat tiga kelompok:
- Ada yang bersikap menutup diri, tidak penasaran untuk mengadakan kaji ulang karena dia telah meyakini perbuatan tersebut pasti benar, dan telah berjalan sekian lama dan telah diamalkan juga oleh para tokoh agama yang dapat diandalkan keilmuannya
- Sikap apatis atau acuh tak acuh, tidak mau mencari penyelesaian. Mereka meyakini dua-duanya benar karena masing-masing mempunyai alasan yang kuat. Umat dipersilahkan mengamalkan mana yang ia kehendaki, mau qunut silahkan, tidak qunut tidak apa-apa, yang penting kita menjaga ukhuwah islamiyah dan jangan saling menyalahkan.
- kelompok yang berusaha mencari penyelesaian dan memilih mana pendapat yang terkuat karena tidak mungkin dua pendapat yang berbeda dua-duanya benar, tidak mungkin dalam satu masalah terdapat dua hukum yang berbeda, ya halal ya haram, ya sunnah ya bid’ah.
(diambil dari Buku Al hidayah Jilid ke-1 karya Ust. Aceng Zakaria, 2003)
***
Aku juga teringat akan hadist yang menyatakan
“Perselisihan ummatku adalah rahmat”
Hadits di atas dhaif, batal, tidak ada dasarnya, tidak ada asalnya (arab: laa ashla lahu); dari sisi matan (redaksi) hadits, bertentangan dengan Al Quran yang memerintahkan untuk bersatu padu dan mencegah adanya ikhtilaf.; Secara logika juga tidak dapat diterima karena kalau perbedaan umatku adalah rahmat, berarti logikanya “persatuan umatku adalah laknat.”
Sepakbola
Sepakbola
Dan rasanya tidak mungkin juga tidak ada yang tidak suka bola. Setidaknya bila orang itu laki-laki, aku pikir pastilah dia suka sepakbola. Minimal, menonton pertandingannya pasti dengan bersemangat. Entah mengapa bisa, waktu itu aku tidak berkeinginan memikirkan alasannya. Mungkin memang aku sedang tersihir.
Hingga suatu saat aku bertandang ke rumah salah seorang bibiku. Suami bibi, alias pamanku, adalah seorang guru olahraga pada waktu itu. Dan sore hari di rumah bibi itu, aku ingat televisi menyiarkan sebuah pertandingan sepakbola. Pamanku sedang ada di rumah dan pastilah dia pun akan menonton, pikirku. Toh, apalagi, dia kan guru olahraga.
Namun, apa mau dikata. Aku jadinya lumayan bingung memikirkan apa yang kemudian aku dapati sore itu. Otakku berputar tidak jelas sambil menonton sepakbola: pamanku ternyata tidak suka bola!
Bagaimana bisa? Dalam perjalanan pulang kembali ke rumahku keesokan harinya, aku merenung dan seakan ada yang kian memberat di kepalaku. Pamanku seorang lak-laki, tentu saja, dan dia guru olahraga. Kok bisa-bisanya dia tidak suka sepakbola? Apa dunia memang sedang bergulir taknormal?
Ya, Pembaca Budiman. Tanpa hendak tercebur ke dalam perdebatan ide dan pemikiran belakangan ini, aku hendak menyoal tentang keberagaman. Tentang pluraritas, atau apalah istilahnya yang kalian kehendaki tentang ketakseragaman; soal keberbedaan isi kepala orang yang satu dengan isi kepala orang yang lainnya.
Perbedaan adalah keniscayaan. Sebuah sunatullah. Karena bukankah dalam Kitab Suci pun Allah sudah menjelaskannya, bahwa manusia memang diciptakan tak seragam, dan ini dimaksudkan agar manusia saling mengenali satu dengan yang lainnya?
Ketidaksamaan yang aku pahami adalah ketidakserupaan yang agak artifisal, bila ini menyangkut keberislaman. Maksudku, soal akidah memanglah soal yang satu: Tiada Tuhan Selain Allah! Namun, penjabaran inti ajaran Islam itu ternyata belum juga bisa dibuat sama. Belum ada dibuat satu panduan universal yang kudu dijalankan sama dan seragam oleh setiap muslim bila dia ingin benar-benar Islam! Yang ada hanya Al-Quran dan Sunnah. Dua panduan yang ditetapkan Allah untuk kita pikirkan sebelum kita jalankan. Sehingga, dan memang demikian, Islam tidak seperti Marxsisme—bukan sebuah isme, takbisa disetarakan dengan isme-isme ciptaan manusia, yang ternyata kadang otoriter dan punya perangai menggasak.
Islam adalah sebuah keindahan. Sebuah Kebenaran yang pada akhirnya membuat siapapun yang ikhlas memeluknya akan tersenyum. Manusia diciptakan lengkap dengan akal dan pikiran, juga nafsu. Ketiga hal itulah, misalnya, menurutku, yang membuat para sahabat Rasul memiliki karakter dan kepribadian masing-masing yang agung, unik, orisinal. Sang mahaguru, Rasulullah Muhammad Saw, adalah teladan terbaik. Akan tetapi bukankah Ali tetap Ali, dan Umar tetaplah Umar—begitulah sementara ini menurut pemahamanku yang ringkih. Ali berperawakan kecil dan berkepribadian lembut, sementara Umar berperawakan tinggi dan besar serta berperangai keras. Mereka memiliki kepribadiannya masing-masing. Mungkin ini kalimatku yang naif: Islam tidak akan mematikan karakter tiap-tiap manusia, tapi justru akan menguatkan karakter masing-masing pribadi itu.
Contoh dua sahabat Rasul tadi, yang sekilas aku pertentangkan, adalah lagi-lagi tentang ketaksamaan atawa pluraritas yang kubilang artifisial tadi, bila kita hendak mengejarnya pada pemahaman tentang ketauhidan. Bahwa soal kemahaesaan Allah Swt, dan Muhammad adalah utusan-Nya, adalah nilai mati! Soal konsekuensi dari kalimat Tauhid inilah, seperti kejumawaan para petinggi kafir Quraisy saat disodorkan kepada mereka perkara ini, yang kadang jadi masalah buat kita.
Menjadi baik adalah berada dalam wilayah tarik menarik yang sengit antara mudah dan takmudah. Hal ini menyangkut juga kapasitas ilmu yang dimiliki. Namun, menurutku, ada hal lain juga yang takbisa dibilang tidak penting: yakni semangat belajar. Belajar membaca, menyimak, mengkaji, dan mengamalkan, tentu saja.
Dari sebuah buku aku membaca: Bahwa rasa takut kepada Allah adalah hiasan paling sempurna dalam Islam. Rasulullah Saw berkata, “Akar dari kebijaksanaan adalah rasa takut kepada Allah.”
Beberapa pekan yang lalu aku merasakan sebuah sensasi luarbiasa. Teramat membekas setidaknya buatku. Beberapa menit saja aku dan seorang kawan duduk-duduk melihat kehijauan alam di kaki Manglayang. Subhanallah. Yang hijau-hijau memang menentramkan jiwa. Kemudian setelah sore turun kami pun kembali ke keramaian. Masya Allah. Tiba-tiba aku merasakan kegersangan yang agak menekan. Sungguh kontras antara apa yang kulihat dan kubahasakan sebagai ketentraman di kaki gunung, dengan apa yang kucerna sebagai kesibukan orang-orang modern di jalan raya perkotaan. Memang, jadinya sebuah generalisasi yang kadang mendakwa tanpa tedeng aling-aling. Namun, ya, begitulah. Kadang kesibukan di kota membuat kita lupa pada hal-hal ukhrowi. Contohnya, mungkin akulah salah satunya...
Sekarang, aku tidak lagi keranjingan oleh sepakbola. Namun, ternyata, berapa banyak hal lain yang kini aku gumuli—yang digumuli dan terus tergumuli lalu jadilah kelakuan serta kegemaranku, hal-hal “takpenting” sebagai gantinya sepakbola?
Wahai, Pembaca yang Budiman, maafkan bila Anda sudah membaca hingga paragraf terakhir ini. Karena ternyata aku, sang penulisnya, hanyalah seorang abdi yang bandel. Betapapun, aku ingin berdoa, semoga waktu yang Anda sisihkan barusan taksia-sia.
Di rumah, 10 Juli 2007
Di sebuah malam yang hanya sekali
dan takkan pernah kembali
Kamis, Agustus 2
*7 Keajaiban dunia*
Dunia'.
Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang
mereka pikir merupakan 'Tujuh Keajaiban Dunia' saat ini. Walaupun ada
beberapa ketidak sesuaian, sebagian besar daftar berisi sbb :
1] Piramida
2] Taj Mahal
3] Tembok Besar Cina
4] Menara Pisa
5] Kuil Angkor
6] Menara Eiffel
7] Kuil Parthenon
Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang
pelajar, se orang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas
kerjanya. Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan
daftarnya. Gadis pendiam itu menjawab, 'Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena
sangat banyaknya 'keajaiban itu'. Sang guru berkata,'Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya'.
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca, 'Saya pikir, 'Tujuh Keajaiban
Dunia' itu adalah :
1] Bisa melihat,
2] Bisa mendengar,
3] Bisa menyentuh,
4] Bisa menyayangi,
5] Bisa merasakan,
6] Bisa tertawa, dan
7] Bisa mencintai
Ruang kelas tersebut sunyi seketika. *Alangkah mudahnya bagi kita untuk
melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya 'keajaiban'.
Sementara kita
lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita
menyebutnya sebagai 'biasa'.
Mulai Ga Nyambung Neh....
akulah yang paling aneh menurut mereka (tapi urang mah teu ngarasa
kitu, teuing ah). Sudah hampir delapan tahun kita bersama, suka duka,
canda tawa, konflik, dan beberapa perjalanan rihlah (ripuh jeung
lelah) pun pernah kita alami. Sebetulnya pertemuan pertama kita tak
ada yang tahu pasti kapan, kira kira sewaktu kita kelas dua es em a
lah kita dipertemukan satu persatu oleh Sang Pemelihara Alam ini. Kita
tidaklah berasal dari sekolah yang sama, aku menghuni sekolah yang
cenah mah rada dicoret posisina ti kota bandung, ciwastra, begitulah
nama daerahnya. Awal mula kenalan dengan mahluk yang namanya William,
Andrew, dan Adrian sebenarnya melalui perantara barudak mountaba (ti
ngarana oge geus kanyahoan mun eta teh pasti pe a alias pecinta alam
soalna aya kata mount-na). William dan Andrew satu sekolah di es em a
sabarahanya? poho deui urang euy tapi mereka yang pasti bukanlah pe a
terdaftar di sekolah mereka (ngan karesepna siga budak pe a),
sedangkan Adrian di sekolah yang berbeda memang terdaftar di pe a
sekolahnya yang bernama girilaya. Oke oke cukup untuk prolognya
(soalna mun terus dicaritakeun naon wae ti mimiti wawuh nepika ayeuna
mah moal beres sabulan nyaritakeunana jeung moal beres sataun ngetikna
oge, nya enya lah).
***
KURUN waktu hampir delapan tahun membuat kita sudah saling merasa
seperti saudara sendiri, namun sepertinya ada yang tidak beres dengan
"persaudaraan" kita ini. Mungkin karena merasa memiliki ikatan emosi
yang sangat kuat dibandingkan dengan teman teman dari dunia kita
masing masing sehingga ini suka disalahgunakan oleh kita (terutama ku
urang). Sori bro, harus kita akui semua bahwa "persaudaraan" kita ini
suka dijadikan ajang ngandelkeun dan yang paling seringnya (terutama
urang) mengenai masalah duit. Aku sering meminjam uang ke Andrew (ke
yang lainnya juga sih, tapi ke Andrew yang lebih utama) dan dengan
sistem gali lobang tutup lobang kalau yang nominalnya kecil sih bisa
langsung ditanggulangi saat itu juga tapi untuk yang nominalnya agak
besar sampai sekarang ironisnya belum bisa tertanggulangi (hampura nya
bro). Padahal sebenarnya pada saat saat tertentu nominal tersebut
sudah aku miliki cuman ga tau kenapa terpakai lagi dan lagi. Setelah
melakukan perenungan (gaya lah bahasana) ternyata dari rasa "dekat"
itulah aku sering menyepelekan Andrew, dengan dalih ah si eta mah
kalem lah, engke deui we soalna aya kebutuhan nu rada perlu yeuh
ayeuna ayeuna teh, Astaghfirullah.......
Ini hal sepele tapi sebenarnya bikin hubungan kita jadi ga sehat
(maenya nginjeum duit nepika mang taun taun teu dibayar wae) dan yang
lebih kutakutkan lagi ini menjadi gep hubungan kita atau bisa jadi
malah menghancurkan mahligai persahabatan (naon deui eta bahasa teh)
kita yang aku pikir jarang ada persahabatan yang bisa bertahan dengan
angka delapan tahun, nya kan, nya laaah...(maksa pisan). Itu mungkin
kesalahan (lain meureun tapi emang enya deui) yang fatal yang
kuperbuat pada Andrew (semoga Andrew diberikan kesabaran dan yang
pastinya kelapangan dada oleh Allah dalam menghadapi kondisi ini,
Amin). Bro, aku yakin kamu bisa mengerti hal ini (atau pura pura
ngerti tapi sabenerna mah keuheul pisan, ah su'udzon maneh, teu
meunang kitu bel). Aku mulai memperhatikan masalah ini dengan serius
sekarang sekarang ini, dan akan ku coba benahi pikiran busukku itu
padamu (Insya Allah urang moal ngagampangkeun deui ka maneh, okei
bro). Dan mengenai ketakutanku tentang hancurnya mahligai persahabatan
(tuh nya sia mah diulang deui eta bahasa teh) kita gara gara masalah
ini semoga itu semua hanya hayalan liar yang berlebihan saja (beuki
teu nyambung sia mah ngetik teh).
***
ADA hal lain belakangan ini yang mulai kuperhatikan dan mungkin ga
pernah diperhatikan (sekali lagi ini cuman prasangka diriku saja) baik
oleh Andrew, William, dan juga Adrian yaitu kayanya umat muslim di
dunia terutama di indonesia mulai terpecah belah (siga piring wae atuh
pecah belah) dalam hal mahzab (sabenerna penting kitu bermahzab teh
pan islam mah ngan hiji, naha jadi papisah kieu nya). Ini yang
menurutku menjadi hal yang sangat sensitif untuk kita bicarakan
bersama sekarang sekarang ini. Pernah suatu hari aku bertanya pada
seseorang kenapa ya kok jadi gitu sekarang, eh dia malah ngejawab nya
emang kunaon kitu teu nanaon atuh (bari nada omonganana teh tinggi
pisan ditambah beungeutna nu sinis ka urangna). Disadari atau tidak
ini salah satu faktor yang menurutku membuat bangsa ini bukannya maju
malah berada diambang kehancuran (edan lah cara analisana), bayangkan
saja kalau tiap orang merasa mahzabnya yang paling benar dan
menganggap mahzab yang lainnya menyimpang atau sesat bahkan menganggap
yang lainnya itu kafir (Astaghfirullah...) maka bukan saja perpecahan
tapi ini bisa menyulut peperangan diantara kita yang ya ampun plis deh
kita itu seiman, mikir dong mikir (kalem kalem ngadat sih ngadat tapi
ulah bari ngabahekeun kopi kitu atuh, pan jadi cepel karpetna).
Fenomena lainnya yang tak kalah memperihatinkan yaitu makin banyak
orang yang mengutamakan materi keduniawian di atas segala galanya. Dan
yang membuatku miris yaitu mereka kebanyakan adalah mereka yang
mengaku dirinya sebagai muslim (jangan jangan aku juga termasuk
seperti mereka lagi, Ya Allah berilah hamba cahaya yang dapat
membimbing hamba menuju keridhoanMu). Ingin sekali aku berkata pada
mereka dengan ucapan, gais, mari kita kembali ke jalan yang betul,
belum terlambat bagi kita semua untuk kembali menjadikan Al Quran dan
As Sunnah sebagai pedoman hidup kita, dan bukan yang lain, bukan pula
segala kesenangan di dunia ini. Meskipun ada hadits yang menyebutkan
bahwa kita harus mencari hal hal keduniawian tapi itu bukan menjadi
alasan untuk berpaling pada perintahNya dan malah mendekati
laranganNya (halloooow, betul tidak ini teh, kenapa jadi pada diem
kaya gini).
Banyak sekali orang yang dahulunya begitu fakir lalu dia berusaha
untuk mencari hal hal keduniawian dengan dalih supaya dia bisa
menggunakan hal hal keduniawian tersebut untuk keperluan di jalan
Allah tapi ternyata dia malah terlena oleh semua hal keduniawian yang
dimilikinya itu. Hal hal yang dulunya ia tentang ketika dia masih
fakir tapi ketika dia sudah memiliki fasilitas yang lebih ketimbang
kehidupannya yang dulu malah dia benarkan (Naudzubillahimindzalik...)
pada saat sekarang. Dan yang lebih parah lagi kita yang mengetahui
perubahan tersebut malah mendiamkan mereka seolah kita pun mendukung
perbuatannya, bukannya menasehati mereka agar meminta ampunanNya dan
mengajaknya kembali ke jalan yang diridhoiNya seraya meninggalkan
semua hal hal semu yang membuat kita terlena di dunia yang fana ini.
Ada apa sebenarnya dengan kita semua? Apakah ego kita lebih berharga
ketimbang rahmat serta maghfirohNya?
Aku bukanlah orang suci yang tak pernah melakukan kesalahan, dan
justru sebaliknya aku adalah mahluk paling hina di dunia ini
(meureun), kalau soal dosa sih mungkin dari semua muslim yang ada di
dunia ini mungkin akulah yang paling banyak dosanya (sakali deui
meureun ieu mah jeung pang pangna mah lain bangga urang ngomong kieu
teh, ngan sugan we bisa dicokot hikmahna ku sarerea terutama ku urang
sorangan) tapi perlahan aku mulai melakukan perenungan (dua kali cenah
ngaluarkeun bahasa nu gaya teh, mun nepi ka tilu kalina bakal meunang
gelas siah) terlebih beberapa saat kemarin aku hampir mati, ya, aku
benar benar hampir mati sehingga mau tidak mau aku jadi mulai itung
itungan amal yang telah kulakukan dibandingkan dosa yang telah
melumuri tubuhku ini (pekna teh loba dosana geuningan, ampuni segala
kesalahan hamba baik yang disengaja maupun yang tak disengaja Ya
Allah). Aku pun mulai mencari kembali hidayahNya sambil berharap
kiranya sudi bagi Allah untuk mengembalikan diriku kembali ke jalan
yang diridhoiNya dan satu yang pasti jikalau aku kembali dihadapkan
pada yang namanya kematian (dan bukan hampir tapi benar benar mati)
maka aku berharap aku mati dalam keadaan husnul khotimah, Amin.
Sebenarnya aku tak butuh idealisme itu, idealisme tai gukguk (sengaja
dipilih bahasa yang agak halus dikarenakan sekarang begitu ketatnya
badan sensor ulama indonesia dalam melakukan penyeleksian kata kata)
yang malah membuat kita semua bahagia di dunia dan sengsara di
akhirat. Aku rindu pada diri kita semua waktu pertama bertemu dulu,
pada diri yang yang begitu polos yang belum terkontaminasi oleh hal
hal yang membuat kita menjadi kumaha aing (enya da persib nu aing),
yang membuat kita menjadi saling su'udzon kepada yang lain, yang
membuat kita bengis, yang membuat kita semua tak peka terhadap sekitar
kita, dan yang pasti membuat kita menjadi tidak pernah lagi tertawa
terbahak bahak entah untuk apa yang penting tertawa (beuki kolot siah
manyun wae mah). Ada apa sih, ngomong dong ngomong (ulah dipendem wae
sagala sesuatuna teh bisi jadi busiat pan rujit jadina, kaluarkeun we
atuh). Oh ya satu lagi ketang, aku sangat rindu dengan rihlah (ripuh
jeung lelah) bersama kalian yang dulu selalu menjadi agenda utama
(konperensi kali pake agenda utama segala) dalam hidup kita (hayu atuh
urang naek gunung deui da teu haram meureun hukumna oge).
***
SEBENARNYA masih banyak hal hal lain yang ingin aku sampaikan, tapi
berhubung keterbatasan cara penyampaian dariku yang rada pabeulit jadi
bisi jadi ngacapruk teu puguh engkena ya mungkin untuk sementara ini
saja yang bisa aku sampaikan dulu, mudah mudahan ditulisan berikutnya
bisa lebih digarap lagi (sawah meureun digarap). Moga moga ini menjadi
alat propokasi (maklum urang sunda jadi we hurup pi-na jadi pe, tapi
mending ketang coba mun make bahasa arab teuing jadi naon tah tulisan
teh) komunikasi kita yang pada kenyataannya mulai jarang ketemu atau
paling banter nanya kabar lewat es em es doang, harapannya sih
meskipun jarang ketemu kita tetep bertukar informasi, pendapat, atau
yang aku sangat kangenkan adalah "curhat" kita berempat yang mungkin
sudah menjadi bid'ah dalam hubungan kita (meureun) lewat imel yang aku
yakin itu bukanlah hal yang tabu untuk kita lakukan semua mengingat
dunia maya (lain duniana bu maya nya, omat siah) merupakan makanan
utama kita setelah nasi (tapi teuing ketang sigana akses ka dunia maya
teh ayeuna malah jadi pangabutuh utama salian ti kejo nya jeung urang
urang mah, teuing ketang, teuing ah).
Dan untuk lebih transparannya jeroan hati kita, aku harap baik Andrew,
William, dan Adrian masing masing memberikan tanggapan, cacian,
makian, hinaan, atau bahkan fatwa (meureun) dari keluh kesah gundah
gulanaku ini (tong poho ngirimkeun imelna langsung ka opatan tong ngan
ka saurang saurang, meh euweuh omongan ditukang bisi jadi fitnah, keun
we omongkeun, bebaskeun lah sagala uneg uneg urang sarerea nya). Dan
por de lis bat nat por de las aku sayang kalian, sumpeh deh gue. Aku
berharap kita tetap mempererat Ukhuwah Islamiyah ini, Amin.
-tiga nol mei dua nol nol tujuh-
Nb: pemberian nama teh bukannya ingin kebarat baratan (nyaho sorangan
meureun, nulis kata kata bahasa inggrisna oge teu baleg, asal bitu we
dina cangkem), tapi tadinya rek dijieun siga cerpen kitu ngan dasarna
teu belul nyieuna jeung pas dibaca deui ku urang naha ngadon jadi
carpruk (carita ngacapruk) nya. Mungkin aku akan lebih berlatih lagi
supaya mahir menyituasikan tulisan seperti ini menjadi cerpen yang
enak untuk dibaca (geus ah sia mah ngacapruk wae). Jika ada kesamaan
tokoh maupun peristiwa dalam cerita ini itu memang kesengajaan.
TERIMA KASIH kepada:
Allah Subhanahuwata'ala
seperangkat pi si intel pentium opat dua giga
monitor seken euweuh merekan pleus kaca anti radiasi
dua buah spiker teuing naon merekna
ol artis di pleylis winem nu matak nyieun gandeng di kamar urang
kibor jeung mosna
babaturanana eta komputer nu teu bisa disebutkeun hiji hiji
Mars Brand Super Tobacoo pleus Buffalo Bill Cigarettes Paper
Tokai warna hejo pleus asbak warna pingna
kopi Kapal Api Spesial Mix
cai panas paranti ninyuh kopina
pisang goreng pleus singkong goreng buatan ibuku
sagala bentuk jajablogeun nu teu bisa disebutkeun hiji hiji
motor Honda model Kharisma 125 D kaluaran taun dua rebu tilu
perlengkapan naik motor lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu
sapedah United model Exotic nu geus dimodip ku urang meh siga monten baik
perlengkapan sasapedahan yang tidak bisa disebutkan satu per satu
barang barang laina nu teu bisa disebutkeun hiji hiji
semua media massa yang telah menggetarkan nuraniku dengan segala beritanya
semua buku bacaan di perpustakaanku yang ceuk batur mah teu penting
ol de pipel nu mere kontribusi jeung tulisan ieu
kopiraig dua rebu tujuh bukan milik siapa siapa (segalanya hanya milik
Allah)
(ari sia teh nyieun tulisan atawa nyieun pilem meni make nu kieu sagala)
kita hidup didunia kita
Saat engkau beranjak dewasa engkau akan temkuan bahwa hidupmu penuh arti bagi orang-orang di sekitarmu.Saat engkau menganggap engkau dapat hidup bebas sebenernya engkau tidak hidup bebas…….
Saat engkau duduk di bangku kuliah engkau mengganggap bahwa hidupmu bergantung pada nilai-nilai mata kuliah yang engkau dapat, itu salah teman, hidup yang engkau jalani semasa kuliah sebenernya hanya di hitung dari nilai yang engkau dapat, saat engkau mendapat nilai baik engkau akan di puji tapi disaat engkau mendapat nilai jelek, adakah orang yang perduli dengan keadaanmu saat itu??
Setelah engkau menyelesaikan masa studimu dan engkau beranjak untuk bekerja, engkau sempat berpikir bahwa kehidupanmu adalah itu, engkau akan merasa dihargai saat engkau berhasil membawa perusahaan ke arah lebih baik, banyak pujian yang datang kepadamu dan setelah itu mungkin engkau akan naik jabatan. Engkau menganggap bahwa itu adalah kehidupanmu, tapi apakah engkau tau bahwa saat engkau bekerja, engkau hanya dianggap sebagai nilai statistik belaka? nilai yang kadang-kadang bisa turun dan naik?? apakah itu kehidupanmu??
Engkau akan menyadari kehidupanmu sangat beharga saat engaku pulang kuliah atao pulang dari kantor. Disana masih banyak yang membutuhkan kamu, membutuhkan perhatian kmu dan sebenernya nilai dari kehidupan itu sendiri adalah saat itu. Bagaimana engkau dapat memberikan kehidupan bagi orang lain, memberikan perhatian kepada orang lain, entah itu bonyok, kakak, adik, atao teman kamu.