Kamis, Agustus 2

Mulai Ga Nyambung Neh....

TOBY, begitulah mereka memanggilku. Diantara kita berempat mungkin
akulah yang paling aneh menurut mereka (tapi urang mah teu ngarasa
kitu, teuing ah). Sudah hampir delapan tahun kita bersama, suka duka,
canda tawa, konflik, dan beberapa perjalanan rihlah (ripuh jeung
lelah) pun pernah kita alami. Sebetulnya pertemuan pertama kita tak
ada yang tahu pasti kapan, kira kira sewaktu kita kelas dua es em a
lah kita dipertemukan satu persatu oleh Sang Pemelihara Alam ini. Kita
tidaklah berasal dari sekolah yang sama, aku menghuni sekolah yang
cenah mah rada dicoret posisina ti kota bandung, ciwastra, begitulah
nama daerahnya. Awal mula kenalan dengan mahluk yang namanya William,
Andrew, dan Adrian sebenarnya melalui perantara barudak mountaba (ti
ngarana oge geus kanyahoan mun eta teh pasti pe a alias pecinta alam
soalna aya kata mount-na). William dan Andrew satu sekolah di es em a
sabarahanya? poho deui urang euy tapi mereka yang pasti bukanlah pe a
terdaftar di sekolah mereka (ngan karesepna siga budak pe a),
sedangkan Adrian di sekolah yang berbeda memang terdaftar di pe a
sekolahnya yang bernama girilaya. Oke oke cukup untuk prolognya
(soalna mun terus dicaritakeun naon wae ti mimiti wawuh nepika ayeuna
mah moal beres sabulan nyaritakeunana jeung moal beres sataun ngetikna
oge, nya enya lah).
***

KURUN waktu hampir delapan tahun membuat kita sudah saling merasa
seperti saudara sendiri, namun sepertinya ada yang tidak beres dengan
"persaudaraan" kita ini. Mungkin karena merasa memiliki ikatan emosi
yang sangat kuat dibandingkan dengan teman teman dari dunia kita
masing masing sehingga ini suka disalahgunakan oleh kita (terutama ku
urang). Sori bro, harus kita akui semua bahwa "persaudaraan" kita ini
suka dijadikan ajang ngandelkeun dan yang paling seringnya (terutama
urang) mengenai masalah duit. Aku sering meminjam uang ke Andrew (ke
yang lainnya juga sih, tapi ke Andrew yang lebih utama) dan dengan
sistem gali lobang tutup lobang kalau yang nominalnya kecil sih bisa
langsung ditanggulangi saat itu juga tapi untuk yang nominalnya agak
besar sampai sekarang ironisnya belum bisa tertanggulangi (hampura nya
bro). Padahal sebenarnya pada saat saat tertentu nominal tersebut
sudah aku miliki cuman ga tau kenapa terpakai lagi dan lagi. Setelah
melakukan perenungan (gaya lah bahasana) ternyata dari rasa "dekat"
itulah aku sering menyepelekan Andrew, dengan dalih ah si eta mah
kalem lah, engke deui we soalna aya kebutuhan nu rada perlu yeuh
ayeuna ayeuna teh, Astaghfirullah.......

Ini hal sepele tapi sebenarnya bikin hubungan kita jadi ga sehat
(maenya nginjeum duit nepika mang taun taun teu dibayar wae) dan yang
lebih kutakutkan lagi ini menjadi gep hubungan kita atau bisa jadi
malah menghancurkan mahligai persahabatan (naon deui eta bahasa teh)
kita yang aku pikir jarang ada persahabatan yang bisa bertahan dengan
angka delapan tahun, nya kan, nya laaah...(maksa pisan). Itu mungkin
kesalahan (lain meureun tapi emang enya deui) yang fatal yang
kuperbuat pada Andrew (semoga Andrew diberikan kesabaran dan yang
pastinya kelapangan dada oleh Allah dalam menghadapi kondisi ini,
Amin). Bro, aku yakin kamu bisa mengerti hal ini (atau pura pura
ngerti tapi sabenerna mah keuheul pisan, ah su'udzon maneh, teu
meunang kitu bel). Aku mulai memperhatikan masalah ini dengan serius
sekarang sekarang ini, dan akan ku coba benahi pikiran busukku itu
padamu (Insya Allah urang moal ngagampangkeun deui ka maneh, okei
bro). Dan mengenai ketakutanku tentang hancurnya mahligai persahabatan
(tuh nya sia mah diulang deui eta bahasa teh) kita gara gara masalah
ini semoga itu semua hanya hayalan liar yang berlebihan saja (beuki
teu nyambung sia mah ngetik teh).
***

ADA hal lain belakangan ini yang mulai kuperhatikan dan mungkin ga
pernah diperhatikan (sekali lagi ini cuman prasangka diriku saja) baik
oleh Andrew, William, dan juga Adrian yaitu kayanya umat muslim di
dunia terutama di indonesia mulai terpecah belah (siga piring wae atuh
pecah belah) dalam hal mahzab (sabenerna penting kitu bermahzab teh
pan islam mah ngan hiji, naha jadi papisah kieu nya). Ini yang
menurutku menjadi hal yang sangat sensitif untuk kita bicarakan
bersama sekarang sekarang ini. Pernah suatu hari aku bertanya pada
seseorang kenapa ya kok jadi gitu sekarang, eh dia malah ngejawab nya
emang kunaon kitu teu nanaon atuh (bari nada omonganana teh tinggi
pisan ditambah beungeutna nu sinis ka urangna). Disadari atau tidak
ini salah satu faktor yang menurutku membuat bangsa ini bukannya maju
malah berada diambang kehancuran (edan lah cara analisana), bayangkan
saja kalau tiap orang merasa mahzabnya yang paling benar dan
menganggap mahzab yang lainnya menyimpang atau sesat bahkan menganggap
yang lainnya itu kafir (Astaghfirullah...) maka bukan saja perpecahan
tapi ini bisa menyulut peperangan diantara kita yang ya ampun plis deh
kita itu seiman, mikir dong mikir (kalem kalem ngadat sih ngadat tapi
ulah bari ngabahekeun kopi kitu atuh, pan jadi cepel karpetna).

Fenomena lainnya yang tak kalah memperihatinkan yaitu makin banyak
orang yang mengutamakan materi keduniawian di atas segala galanya. Dan
yang membuatku miris yaitu mereka kebanyakan adalah mereka yang
mengaku dirinya sebagai muslim (jangan jangan aku juga termasuk
seperti mereka lagi, Ya Allah berilah hamba cahaya yang dapat
membimbing hamba menuju keridhoanMu). Ingin sekali aku berkata pada
mereka dengan ucapan, gais, mari kita kembali ke jalan yang betul,
belum terlambat bagi kita semua untuk kembali menjadikan Al Quran dan
As Sunnah sebagai pedoman hidup kita, dan bukan yang lain, bukan pula
segala kesenangan di dunia ini. Meskipun ada hadits yang menyebutkan
bahwa kita harus mencari hal hal keduniawian tapi itu bukan menjadi
alasan untuk berpaling pada perintahNya dan malah mendekati
laranganNya (halloooow, betul tidak ini teh, kenapa jadi pada diem
kaya gini).

Banyak sekali orang yang dahulunya begitu fakir lalu dia berusaha
untuk mencari hal hal keduniawian dengan dalih supaya dia bisa
menggunakan hal hal keduniawian tersebut untuk keperluan di jalan
Allah tapi ternyata dia malah terlena oleh semua hal keduniawian yang
dimilikinya itu. Hal hal yang dulunya ia tentang ketika dia masih
fakir tapi ketika dia sudah memiliki fasilitas yang lebih ketimbang
kehidupannya yang dulu malah dia benarkan (Naudzubillahimindzalik...)
pada saat sekarang. Dan yang lebih parah lagi kita yang mengetahui
perubahan tersebut malah mendiamkan mereka seolah kita pun mendukung
perbuatannya, bukannya menasehati mereka agar meminta ampunanNya dan
mengajaknya kembali ke jalan yang diridhoiNya seraya meninggalkan
semua hal hal semu yang membuat kita terlena di dunia yang fana ini.
Ada apa sebenarnya dengan kita semua? Apakah ego kita lebih berharga
ketimbang rahmat serta maghfirohNya?

Aku bukanlah orang suci yang tak pernah melakukan kesalahan, dan
justru sebaliknya aku adalah mahluk paling hina di dunia ini
(meureun), kalau soal dosa sih mungkin dari semua muslim yang ada di
dunia ini mungkin akulah yang paling banyak dosanya (sakali deui
meureun ieu mah jeung pang pangna mah lain bangga urang ngomong kieu
teh, ngan sugan we bisa dicokot hikmahna ku sarerea terutama ku urang
sorangan) tapi perlahan aku mulai melakukan perenungan (dua kali cenah
ngaluarkeun bahasa nu gaya teh, mun nepi ka tilu kalina bakal meunang
gelas siah) terlebih beberapa saat kemarin aku hampir mati, ya, aku
benar benar hampir mati sehingga mau tidak mau aku jadi mulai itung
itungan amal yang telah kulakukan dibandingkan dosa yang telah
melumuri tubuhku ini (pekna teh loba dosana geuningan, ampuni segala
kesalahan hamba baik yang disengaja maupun yang tak disengaja Ya
Allah). Aku pun mulai mencari kembali hidayahNya sambil berharap
kiranya sudi bagi Allah untuk mengembalikan diriku kembali ke jalan
yang diridhoiNya dan satu yang pasti jikalau aku kembali dihadapkan
pada yang namanya kematian (dan bukan hampir tapi benar benar mati)
maka aku berharap aku mati dalam keadaan husnul khotimah, Amin.

Sebenarnya aku tak butuh idealisme itu, idealisme tai gukguk (sengaja
dipilih bahasa yang agak halus dikarenakan sekarang begitu ketatnya
badan sensor ulama indonesia dalam melakukan penyeleksian kata kata)
yang malah membuat kita semua bahagia di dunia dan sengsara di
akhirat. Aku rindu pada diri kita semua waktu pertama bertemu dulu,
pada diri yang yang begitu polos yang belum terkontaminasi oleh hal
hal yang membuat kita menjadi kumaha aing (enya da persib nu aing),
yang membuat kita menjadi saling su'udzon kepada yang lain, yang
membuat kita bengis, yang membuat kita semua tak peka terhadap sekitar
kita, dan yang pasti membuat kita menjadi tidak pernah lagi tertawa
terbahak bahak entah untuk apa yang penting tertawa (beuki kolot siah
manyun wae mah). Ada apa sih, ngomong dong ngomong (ulah dipendem wae
sagala sesuatuna teh bisi jadi busiat pan rujit jadina, kaluarkeun we
atuh). Oh ya satu lagi ketang, aku sangat rindu dengan rihlah (ripuh
jeung lelah) bersama kalian yang dulu selalu menjadi agenda utama
(konperensi kali pake agenda utama segala) dalam hidup kita (hayu atuh
urang naek gunung deui da teu haram meureun hukumna oge).
***

SEBENARNYA masih banyak hal hal lain yang ingin aku sampaikan, tapi
berhubung keterbatasan cara penyampaian dariku yang rada pabeulit jadi
bisi jadi ngacapruk teu puguh engkena ya mungkin untuk sementara ini
saja yang bisa aku sampaikan dulu, mudah mudahan ditulisan berikutnya
bisa lebih digarap lagi (sawah meureun digarap). Moga moga ini menjadi
alat propokasi (maklum urang sunda jadi we hurup pi-na jadi pe, tapi
mending ketang coba mun make bahasa arab teuing jadi naon tah tulisan
teh) komunikasi kita yang pada kenyataannya mulai jarang ketemu atau
paling banter nanya kabar lewat es em es doang, harapannya sih
meskipun jarang ketemu kita tetep bertukar informasi, pendapat, atau
yang aku sangat kangenkan adalah "curhat" kita berempat yang mungkin
sudah menjadi bid'ah dalam hubungan kita (meureun) lewat imel yang aku
yakin itu bukanlah hal yang tabu untuk kita lakukan semua mengingat
dunia maya (lain duniana bu maya nya, omat siah) merupakan makanan
utama kita setelah nasi (tapi teuing ketang sigana akses ka dunia maya
teh ayeuna malah jadi pangabutuh utama salian ti kejo nya jeung urang
urang mah, teuing ketang, teuing ah).

Dan untuk lebih transparannya jeroan hati kita, aku harap baik Andrew,
William, dan Adrian masing masing memberikan tanggapan, cacian,
makian, hinaan, atau bahkan fatwa (meureun) dari keluh kesah gundah
gulanaku ini (tong poho ngirimkeun imelna langsung ka opatan tong ngan
ka saurang saurang, meh euweuh omongan ditukang bisi jadi fitnah, keun
we omongkeun, bebaskeun lah sagala uneg uneg urang sarerea nya). Dan
por de lis bat nat por de las aku sayang kalian, sumpeh deh gue. Aku
berharap kita tetap mempererat Ukhuwah Islamiyah ini, Amin.

-tiga nol mei dua nol nol tujuh-

Nb: pemberian nama teh bukannya ingin kebarat baratan (nyaho sorangan
meureun, nulis kata kata bahasa inggrisna oge teu baleg, asal bitu we
dina cangkem), tapi tadinya rek dijieun siga cerpen kitu ngan dasarna
teu belul nyieuna jeung pas dibaca deui ku urang naha ngadon jadi
carpruk (carita ngacapruk) nya. Mungkin aku akan lebih berlatih lagi
supaya mahir menyituasikan tulisan seperti ini menjadi cerpen yang
enak untuk dibaca (geus ah sia mah ngacapruk wae). Jika ada kesamaan
tokoh maupun peristiwa dalam cerita ini itu memang kesengajaan.



TERIMA KASIH kepada:

Allah Subhanahuwata'ala
seperangkat pi si intel pentium opat dua giga
monitor seken euweuh merekan pleus kaca anti radiasi
dua buah spiker teuing naon merekna
ol artis di pleylis winem nu matak nyieun gandeng di kamar urang
kibor jeung mosna
babaturanana eta komputer nu teu bisa disebutkeun hiji hiji
Mars Brand Super Tobacoo pleus Buffalo Bill Cigarettes Paper
Tokai warna hejo pleus asbak warna pingna
kopi Kapal Api Spesial Mix
cai panas paranti ninyuh kopina
pisang goreng pleus singkong goreng buatan ibuku
sagala bentuk jajablogeun nu teu bisa disebutkeun hiji hiji
motor Honda model Kharisma 125 D kaluaran taun dua rebu tilu
perlengkapan naik motor lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu
sapedah United model Exotic nu geus dimodip ku urang meh siga monten baik
perlengkapan sasapedahan yang tidak bisa disebutkan satu per satu
barang barang laina nu teu bisa disebutkeun hiji hiji
semua media massa yang telah menggetarkan nuraniku dengan segala beritanya
semua buku bacaan di perpustakaanku yang ceuk batur mah teu penting
ol de pipel nu mere kontribusi jeung tulisan ieu
kopiraig dua rebu tujuh bukan milik siapa siapa (segalanya hanya milik
Allah)
(ari sia teh nyieun tulisan atawa nyieun pilem meni make nu kieu sagala)

Tidak ada komentar: