Selasa, Agustus 28

pena telah diangkat dan tinta telah mengering

Kawan-kawan, dan semua yang membaca, di ruang ini saya pernah bilang:

“Ketidaksamaan yang aku pahami adalah ketidakserupaan yang agak artifisal, bila ini menyangkut keberislaman. Maksudku, soal akidah memanglah soal yang satu: Tiada Tuhan Selain Allah! Namun, penjabaran inti ajaran Islam itu ternyata belum juga bisa dibuat sama. Belum ada dibuat satu panduan universal yang kudu dijalankan sama dan seragam oleh setiap muslim bila dia ingin benar-benar Islam! Yang ada hanya Al-Quran dan Sunnah. Dua panduan yang ditetapkan Allah untuk kita pikirkan sebelum kita jalankan. Sehingga, dan memang demikian, Islam tidak seperti Marxsisme—bukan sebuah isme, takbisa disetarakan dengan isme-isme ciptaan manusia, yang ternyata kadang otoriter dan punya perangai menggasak.”

Waduh, gagah sekali rasanya saya! Tapi kok jadi merinding sendiri. Seram. Takut. Tapi saya enggak bisa ngapa-ngapain, misalnya mengumumkan pada dunia bahwa saya menggigil karena takut oleh kepongahan saya sendiri menulis sesuatu yang sebenarnya saya tidak kuasai sepenuhnya; bahwa waktu itu saya menulis karena dibarengi emosi yang agak menclak sana menclok sini karena ada sesuatu keajegan yang tengah kubangun namun terusik dalam perjalanannya. Lalu itulah dia, pena telah diangkat dan tinta telah mengering. Semoga kawan-kawan dan pembaca budiman—siapa pun engkau—adalah orang-orang pintar nan cerdas yang mau mengerti serta menerima bahwa saya memang bodoh dan terlalu banyak maunya.

Tabik!

wn

Tidak ada komentar: