Jumat, Agustus 3

Sepakbola

Sepakbola

Wildan Nugraha

Dahulu aku pernah begitu keranjingan dengan sepakbola. Saat umuran SMP itu aku mengikuti perkembangan si kulit bundar di dalam maupun luar negeri. Dari televisi dan koran, dan dari obrolan dengan kawan-kawan. Tiada hari tanpa bola, begitulah rasanya.

Dan rasanya tidak mungkin juga tidak ada yang tidak suka bola. Setidaknya bila orang itu laki-laki, aku pikir pastilah dia suka sepakbola. Minimal, menonton pertandingannya pasti dengan bersemangat. Entah mengapa bisa, waktu itu aku tidak berkeinginan memikirkan alasannya. Mungkin memang aku sedang tersihir.

Hingga suatu saat aku bertandang ke rumah salah seorang bibiku. Suami bibi, alias pamanku, adalah seorang guru olahraga pada waktu itu. Dan sore hari di rumah bibi itu, aku ingat televisi menyiarkan sebuah pertandingan sepakbola. Pamanku sedang ada di rumah dan pastilah dia pun akan menonton, pikirku. Toh, apalagi, dia kan guru olahraga.

Namun, apa mau dikata. Aku jadinya lumayan bingung memikirkan apa yang kemudian aku dapati sore itu. Otakku berputar tidak jelas sambil menonton sepakbola: pamanku ternyata tidak suka bola!

Bagaimana bisa? Dalam perjalanan pulang kembali ke rumahku keesokan harinya, aku merenung dan seakan ada yang kian memberat di kepalaku. Pamanku seorang lak-laki, tentu saja, dan dia guru olahraga. Kok bisa-bisanya dia tidak suka sepakbola? Apa dunia memang sedang bergulir taknormal?

Ya, Pembaca Budiman. Tanpa hendak tercebur ke dalam perdebatan ide dan pemikiran belakangan ini, aku hendak menyoal tentang keberagaman. Tentang pluraritas, atau apalah istilahnya yang kalian kehendaki tentang ketakseragaman; soal keberbedaan isi kepala orang yang satu dengan isi kepala orang yang lainnya.

Perbedaan adalah keniscayaan. Sebuah sunatullah. Karena bukankah dalam Kitab Suci pun Allah sudah menjelaskannya, bahwa manusia memang diciptakan tak seragam, dan ini dimaksudkan agar manusia saling mengenali satu dengan yang lainnya?

Ketidaksamaan yang aku pahami adalah ketidakserupaan yang agak artifisal, bila ini menyangkut keberislaman. Maksudku, soal akidah memanglah soal yang satu: Tiada Tuhan Selain Allah! Namun, penjabaran inti ajaran Islam itu ternyata belum juga bisa dibuat sama. Belum ada dibuat satu panduan universal yang kudu dijalankan sama dan seragam oleh setiap muslim bila dia ingin benar-benar Islam! Yang ada hanya Al-Quran dan Sunnah. Dua panduan yang ditetapkan Allah untuk kita pikirkan sebelum kita jalankan. Sehingga, dan memang demikian, Islam tidak seperti Marxsisme—bukan sebuah isme, takbisa disetarakan dengan isme-isme ciptaan manusia, yang ternyata kadang otoriter dan punya perangai menggasak.

Islam adalah sebuah keindahan. Sebuah Kebenaran yang pada akhirnya membuat siapapun yang ikhlas memeluknya akan tersenyum. Manusia diciptakan lengkap dengan akal dan pikiran, juga nafsu. Ketiga hal itulah, misalnya, menurutku, yang membuat para sahabat Rasul memiliki karakter dan kepribadian masing-masing yang agung, unik, orisinal. Sang mahaguru, Rasulullah Muhammad Saw, adalah teladan terbaik. Akan tetapi bukankah Ali tetap Ali, dan Umar tetaplah Umar—begitulah sementara ini menurut pemahamanku yang ringkih. Ali berperawakan kecil dan berkepribadian lembut, sementara Umar berperawakan tinggi dan besar serta berperangai keras. Mereka memiliki kepribadiannya masing-masing. Mungkin ini kalimatku yang naif: Islam tidak akan mematikan karakter tiap-tiap manusia, tapi justru akan menguatkan karakter masing-masing pribadi itu.

Contoh dua sahabat Rasul tadi, yang sekilas aku pertentangkan, adalah lagi-lagi tentang ketaksamaan atawa pluraritas yang kubilang artifisial tadi, bila kita hendak mengejarnya pada pemahaman tentang ketauhidan. Bahwa soal kemahaesaan Allah Swt, dan Muhammad adalah utusan-Nya, adalah nilai mati! Soal konsekuensi dari kalimat Tauhid inilah, seperti kejumawaan para petinggi kafir Quraisy saat disodorkan kepada mereka perkara ini, yang kadang jadi masalah buat kita.

Menjadi baik adalah berada dalam wilayah tarik menarik yang sengit antara mudah dan takmudah. Hal ini menyangkut juga kapasitas ilmu yang dimiliki. Namun, menurutku, ada hal lain juga yang takbisa dibilang tidak penting: yakni semangat belajar. Belajar membaca, menyimak, mengkaji, dan mengamalkan, tentu saja.

Dari sebuah buku aku membaca: Bahwa rasa takut kepada Allah adalah hiasan paling sempurna dalam Islam. Rasulullah Saw berkata, “Akar dari kebijaksanaan adalah rasa takut kepada Allah.”

Beberapa pekan yang lalu aku merasakan sebuah sensasi luarbiasa. Teramat membekas setidaknya buatku. Beberapa menit saja aku dan seorang kawan duduk-duduk melihat kehijauan alam di kaki Manglayang. Subhanallah. Yang hijau-hijau memang menentramkan jiwa. Kemudian setelah sore turun kami pun kembali ke keramaian. Masya Allah. Tiba-tiba aku merasakan kegersangan yang agak menekan. Sungguh kontras antara apa yang kulihat dan kubahasakan sebagai ketentraman di kaki gunung, dengan apa yang kucerna sebagai kesibukan orang-orang modern di jalan raya perkotaan. Memang, jadinya sebuah generalisasi yang kadang mendakwa tanpa tedeng aling-aling. Namun, ya, begitulah. Kadang kesibukan di kota membuat kita lupa pada hal-hal ukhrowi. Contohnya, mungkin akulah salah satunya...

Sekarang, aku tidak lagi keranjingan oleh sepakbola. Namun, ternyata, berapa banyak hal lain yang kini aku gumuli—yang digumuli dan terus tergumuli lalu jadilah kelakuan serta kegemaranku, hal-hal “takpenting” sebagai gantinya sepakbola?

Wahai, Pembaca yang Budiman, maafkan bila Anda sudah membaca hingga paragraf terakhir ini. Karena ternyata aku, sang penulisnya, hanyalah seorang abdi yang bandel. Betapapun, aku ingin berdoa, semoga waktu yang Anda sisihkan barusan taksia-sia.

Di rumah, 10 Juli 2007

Di sebuah malam yang hanya sekali

dan takkan pernah kembali

Tidak ada komentar: