“CUY, iraha atuh ka leuweung deui teh? “
“Iraha nya, masalahna urang urang teh asa saribuk pisan.”
“Bisa diatur lah mun urang mah, ngan teuing tah jelema nu dua deui mah, ente ngomong lah ka jelema nu dua eta, percaya lah urang ka ente mah, ente kan bisa meyakinkan lamun ngobrol jeung nu dua eta mah, mun urang nu ngomong teh tara dianggap serius euy, apal meureun tungtungna pasti ngan jadi wacana deui wacana deui.”
“Sabenerna mah lain mun maneh hungkul ngobrol jeung salah sahiji nu dua eta, tapi tiap ngumpul opatan ge pasti we mun ngobrolkeun rencana ka leuweung teh pasti ngan saukur jadi wacana hungkul.”
“Heueuh nya mun dipikir pikir mah, nggeus we atuh urang duaan lah ka leuweungna, ribet jeung nu dua deui mah, kumaha?”
“Tah mun kitu urang satuju, daripada miceun waktu jeung tanaga ngobrolkeun nu teu puguh jadi jeung jelema nu dua deui mah mending urang duaan we lah, hayu atuh, iraha maneh bisana? kamana ieu teh ngomong ngomong? ”
“Ka jayagiri we nu deukeut, poe saptu kumaha? tapi ngomong ngomong rek meuting atawa pepe? lamun meuting tong poe saptu inditna soalna urang poe mingguna aya acara, kumaha?”
“Nya nggeus we indit poe juma’ah, tapi rek indit beres juma’ahan atawa sorena?”
“Indit peutingna we atuh, kumaha? pan resep tah mun indit peuting mah, asa menantang, urang duaan kan geus lila teu ka jayagirina jadi pasti pangling jeung kaayaan nu ayeuna mah komo deui ditambah peuting pan jadi seru tah.”
“Heueuh bener, satuju urang, indit peuting jam sabaraha? rek janjian dimana? atawa urang ka imah maneh we atuh nya, jadi indit bareng kitu?”
“Heueuh kitu we, terserah ente rek jam sabaraha ka imah urang, ari angkot mah nepi peuting ge aya keneh ka lembang mah.”
“Bada Isya lah urang ka imah maneh nya.”
“Akhirna, jadi oge urang ka leuweung teh, lain nanaon euy urang geus teu kuat hayang ningali nu hejo hejo deui, rieut yeuh di kota wae mah, pusing pusing, pan butuh represing atuh urang teh.”
***
TIGA puluh satu agustus dua ribu tujuh menjadi hari yang akan selalu kami ingat bersama. Malam itu pukul sepuluh kurang lima belas menit kami berangkat menggunakan angkutan kota jurusan leuwi panjang kebon kalapa dari terminal leuwi panjang. Lima ribu rupiah ongkos untuk dua orang hingga kebon kalapa, disambung dengan angkutan kota jurusan kebon kalapa ledeng dengan tarif enam ribu rupiah untuk dua orang hingga terminal ledeng. Dari situ kami naik angkutan kota menuju lembang dengan biaya enam ribu rupiah untuk dua orang. Tiba di lembang kira kira pukul sebelas malam dan kami lanjutkan berjalan menuju pos pendakian. Sesampainya di pos pendakian kami langsung menyiapkan senter sebagai alat penunjang agar kami dapat lebih mudah melihat medan yang akan kami daki. Baru berjalan lima belas menit, aku merasa seperti sudah lari marathon saja, ya, nafasku tersenggal senggal ditambah kucuran keringat yang tak kunjung berhenti membasahi tubuhku. Melihat keadaanku, sahabatku menganjurkan agar kami istirahat dulu saja, tak perlu dipaksakan ujarnya. Payah memang kalau dipikir pikir, masa baru segitu saja sudah repot. Kuakui jika aku jarang berolahraga ditambah kebiasaan burukku yang belum bisa kutinggalkan, ya, jarang olahraga ditambah sering merokok mungkin itulah penyebab apa yang membuatku seperti itu. Setelah bisa menyesuaikan kembali irama nafasku, ditambah beberapa kali menengguk air matang yang sengaja kami bawa sebagai persediaan di perjalanan, kami melanjutkan petualangan kami. Kuhitung mungkin ada tiga kali kami berhenti untuk sekedar mengatur irama nafas dan melemaskan otot otot kaki. Jalur pendakian jayagiri memang terhitung pendek namun karena medannya yang terus menanjak menjadi hambatan tersendiri terutama buatku, maklum saja aku memang lemah untuk medan seperti itu, berbeda jika medannya landai, sejauh apa pun aku cenderung kuat melaluinya (ah, ripuh mah nya ripuh we atuh, ulah sok neangan alesan).
Kira kira pukul satu pagi kami tiba di puncak jayagiri atau yang sering disebut sebagai warung abah, disebut begitu karena beberapa meter sebelum puncak terdapat warung yang tentu saja penghuninya akrab dipanggil abah (meureun eta ge, da teu apal aing mah naha beut disebut kitu). Tanpa menunggu lama kami langsung memasak air untuk membuat racikan kopi, minuman pemersatu para petualang, kenapa kusebut demikian karena menurutku kopi adalah teman setia dalam obrolan (komo deui mun aya ududna mah, leuwih meded deui mun aya cemilan, leuwih najong deui mun aya dahareun, ah bebas teuing sia mah) terlebih dalam suasana di alam terbuka. Tanpa perlindungan tenda, kami coba untuk menikmati alam sekitar kami. Memang sih tidak sefti prosedur tapi mau bagaimana lagi soalnya persiapan kami juga mendadak sehingga tidak sempat untuk meminjam tenda (pangpangna mah rusuh jeung nekat da geus teu kuat hayang leuleuweungan tea jadi pokona mah indit we meskipun persiapana kurang, engke nya kumaha engke we, teu meunang kitu sih sabenerna mah, nya mudah mudahan leuleuweungan deui nu engke mah rada bisa priper). Pagi itu kami sepakat untuk tidak tidur hingga matahari terbit. Entah sudah tiga gelas kopi atau bahkan lebih ditambah cemilan berupa kacang sukro dan kue kreker pleus udud kretek si hejo (ngahaja teu nyebut merek soalna bisi mejarkeun promosi jeung nu pastina geus ngarti meureun merek naon eta teh) yang sengaja kami bawa dari rumah sebagai bahan bakar selama kami di jayagiri (sabenerna eta kabeh teh lain bahan logistik nu kudu dibawa mun leuleuwengan sih, tapi da boga duitna ngan saukur bisa meuli nukitu, nya nikmati we). Selama begadang kami banyak berbicara dari hati ke hati alias curhat, membicarakan yang telah lalu, saat sekarang, dan tentu saja rencana ke depan dalam hidup ini. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat hingga kami tak menyadari munculnya warna kuning kemerah merahan terlihat di sebelah timur puncak jayagiri. Ya, sang raja hari mulai menampakkan dirinya. Kami pun bergantian mengambil air wudhu di sumber air yang tak jauh dari tempat kami menggelar lapak di sekitar puncak jayagiri. Setelah selesai menunaikan Shalat Shubuh, ritual narsis pun dimulai. Dengan kamera dijital yang kubawa ditambah fasilitas kamera yang terdapat di henpun sahabatku kami mulai memotret diri kami secara bergantian dengan latar keindahan alam jayagiri. Kini bentuk sang raja hari sudah benar benar tampak dengan sempurna. Cahaya hangat pun mulai menyinari tubuh kami, seakan lupa akan hawa dingin semalam yang kami rasakan begitu menggigit hingga mencengkram tulang di tubuh kami. Cukup lama kami hanya bisa terdiam seraya terus memuji dalam hati kami masing masing kebesaran Rabb Semesta Alam atas kesempatan yang diberikanNya pada kami untuk bisa menyaksikan keindahan fenomena pergantian hari pada saat itu.
Sungguh tolol jika ada manusia yang tidak merasa betapa kecil dan lemah dirinya setelah melihat tanda tanda kebesaran Sang Khalik, tanda tanda yang begitu terhampar di bumi ini. Bahkan setelah kurenungi kembali apa yang telah kulakukan tadi malam, aku tersadar begitu banyak hikmah yang dapat kupetik dari pendakianku ini. Betapa tidak, sebelum aku melakukan pendakian, aku harus merencanakan dengan matang perlengkapan yang akan kubawa untuk melakukan pendakian. Dari mulai pakaian yang kupakai tentu saja aku akan memakai pakaian yang dapat mendukung untuk berkegiatan di alam terbuka, bukan pakaian yang digunakan untuk pergi ke kantor. Belum lagi peralatan penunjang lainnya, hikmah yang dapat diambil yaitu dalam menjalani hidup ini kita tentu harus menyiapkan segala sesuatunya jika kita ingin nyaman di tempat tujuan kita nanti. Jika kita ingin ke surga ya kita persiapkan segala sesuatunya agar kita bisa masuk surga, kalau kita ingin ke neraka ya kita persiapkan segala sesuatunya agar kita bisa masuk neraka (tapi maenya we jelema hayang asup ka naraka, amit amit atuh). Pada dasarnya jika persiapan kita tidak matang, maka bukannya mendapatkan kebahagiaan malah merasakan penderitaan.
Itu yang pertama, yang kedua ketika aku mendaki terasa bahwa jalan yang kulalui adalah jalan yang terjal, jalan menanjak, jalan dengan bahaya selalu mengintaiku jika aku tidak hati hati. Tapi meskipun demikian aku harus dapat melaluinya, aku tidak boleh menyerah, lebih baik menjalaninya dengan perlahan tapi pasti ketimbang terburu buru yang malah menimbulkan kecelakaan, atau mungkin biar ga repot aku sewa saja helikopter untuk mengantarkanku ke puncak. Ada yang bilang kalau tujuan bukan utama, tapi yang utama adalah prosesnya. Percuma dong naik gunung tapi menggunakan helikopter, dimana esensinya?, dimana seninya?, dimana perjuangannya?
Itu yang kedua, yang ketiga yang kurasakan selama naik gunung adalah kedinginan, makan seadanya, tidur apalagi tidak nyaman. Hikmah yang dapat diambil yaitu aku dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang orang yang tidak memiliki fasilitas seperti orang kebanyakan, seperi mereka yang hidup di jalan. Setiap harinya mereka hanya tidur di pinggir jalan dengan beralaskan kardus bekas atau bahkan tanpa alas, tanpa pelindung dari angin malam yang begitu menggigit, tanpa pelindung jika hujan turun. Mereka juga tidak makan dengan nilai gizi yang proporsional, mereka makan seadanya, sedapatnya, dan tentu saja tidak teratur, kadang hari ini bisa makan, kadang esoknya harus menahan lapar. Aku selalu tidak habis pikir jika melihat orang orang yang dengan sengajanya membuang makanan yang mereka makan alias tidak menghabiskannya. Tidak terpikirkah ketika mereka makan, banyak orang orang yang tidak bisa makan. Tidak terpikirkah ketika mereka membuang makanan mereka, makanan itu begitu berarti untuk mereka yang kelaparan. Dimana nurani mereka? Dengan alasan bahwa makanan yang mereka makan tidak enak pun seharusnya mereka bersyukur mereka dapat makan, dan asal tahu saja untuk mereka yang kelaparan, makanan yang menurut kita tidak enak pun pasti mereka akan makan. Karena apa, karena mereka lapar, mereka tidak pernah mempertanyakan makanan itu enak atau tidak, yang penting rasa lapar mereka bisa terhapuskan. Pada dasarnya kita harus pandai bersyukur dengan apa yang kita miliki karena belum tentu orang lain memiliki apa yang kita miliki. Jangan selalu mendongak ke atas dengan dalih yang lain juga makmur maka kita juga harus makmur. Mending kalau dengan kemakmuran itu kita bisa berbagi dengan orang lain, kalau hanya untuk kepuasan sendiri sih rujit atuh kalakuan siga kitu mah (ngarti rujit teu? bayangkeun we tai atuh, jadi jelema nu rujit kalakuanana teh berarti siga tai nyaho). Seharusnya kita jangan melulu melihat ke atas tapi selalu melihat ke bawah, selalu mengulurkan tangan kita untuk membantu mereka yang membutuhkan tanpa harus diminta. Jika kita bisa merasakan kesusahan orang lain berarti kita bisa berempati kepada orang lain dan tentunya kita akan mengusahakan untuk meringankan kesusahan orang lain tersebut.
Aku jadi teringat matahari, dia menyinari tanpa kita memintanya, dengan sinarnya maka tumbuhan pun dapat berfotosintesis sehingga tumbuhan dapat menghasilkan makanan untuk dirinya tumbuh dan berkembang menghasilkan buah dan yang lainnya yang nantinya manusia dan binatang manfaatkan untuk kelangsungan hidup mereka. Itu merupakan Sunatullah bahwa mahluk yang lain bermanfaat untuk mahluk yang lainnya. Dan sebaik baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat untuk sesamanya. Lalu kenapa ada manusia yang kikir yang hanya memikirkan kemakmuran dirinya saja, dan bahkan tamak dengan dalih bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini bisa dimanfaatkan maka dia eksploitasi sumber daya alam tersebut untuk kepentingan pribadi tanpa memikirkan generasi berikutnya yang juga membutuhkan sumber daya alam tersebut. Contoh kecil saja, pembabatan hutan. Dengan sogok sana sogok sini akhirnya orang orang tertentu bisa mendapatkan ijin hapeha, dengan ijin hapehanya tersebut dia gunduli hutan untuk dijual kayunya ke negara lain yang seharusnya kita rawat untuk keberlangsungan hidup kita dengan mengambil manfatnya secara bijaksana dan bukan eksploitasi besar besaran tanpa memikirkan masa depan. Bukan apa apa, butuh waktu puluhan tahun bahkan ratusan tahun untuk bisa menjadikan suatu ekosistem. Ketika hutan dibabat, habitat akan hilang, daya resap tanah akan hilang karena tidak ada lagi akar akar pohon yang akan menghisap air rembesan pada tanah sehingga lama kelamaan tanah menjadi kering lalu mengeras dan air hujan akan mengalir dipermukaan yang akan menimbulkan banjir dan pada kondisi tertentu menyebabkan ikatan tanah merenggang dan menimbulkan erosi yang pada intinya bencana yang akan kita rasakan (naha jadi ngobrolna kadinya nya, tapi bae lah da geus kadung emosi aing).
Setelah menyantap sarapan berupa mie kuah, aku merebahkan tubuhku untuk tidur sejenak, maklum ternyata begadang semalaman membuatku tak kuat untuk istirahat barang sesaat sekedar menghilangkan rasa kantuk (ah ngomong we geus kabiasaan lamun geus barang nyatu pasti tunduh alias hayang molor). Sementara itu sahabatku memilih untuk membaca buku yang sengaja dia bawa untuk mengisi kekosongan waktunya. Kira kira pukul sembilan pagi aku terbangun kaget karena sahabatku menaruh patahan pohon pinus dikepala dan tubuhku (marukana aing geus modar meureun nya, jadi rek dikubur make tatangkalan kitu, sia mah heureuy teh meni ndeso ah). Tapi walaupun begitu aku merasa tubuhku segar kembali, mungkin itu yang disebut sebagai tidur yang berkualitas, tidur sebentar tapi mantap daripada tidur lama siga bangke tapi malah membikin tubuh menjadi lemas. Sementara sahabatku membereskan peralatan, aku memunguti sampah bekas bungkus makanan yang kami bawa dan sampah yang lainnya disekitar lapak kami dan memasukkannya ke dalam kantong plastik yang sengaja kubawa sebagai tempat sampah sementara sampai kami menemukan tempat sampah sebenarnya. Bukan apa apa, aku sangat prihatin dengan keadaan sekarang dimana orang orang yang menyebut dan ingin disebut sebagai pecinta alam malah membuang sampah sembarangan (mikir atuh nying, gunung teh lain wadah runtah, goblog siah), seharusnya masing masing orang berpikir untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya. Jika semua orang yang berkegiatan di alam terbuka berpikir seperti itu tentu kita tidak akan melihat sampah berserakan entah itu pada jalur pendakian, pada daerah yang dijadikan tempat menginap, atau dimana pun disekitar gunung tersebut, kan indah. Dan perilaku tersebut harus kita mulai dari sendiri, mulai hari ini. Setelah melakukan brifing, akhirnya kami putuskan untuk tidak langsung turun tapi terus menuju kawah gunung tangkuban perahu.
Kira kira pukul sepuluh pagi perjalanan kami lanjutkan menuju arah timur dari tempat kami bermalam. Kembali kami menyusuri jalan setapak namun kini medannya tidak terlalu menanjak namun cenderung landai. Tak berselang lama, dari keadaan di puncak yang begitu terbuka kini kami kembali masuk hutan. Setelah berjalan kurang lebih dua jam kami tidak juga sampai di daerah gunung tangkuban perahu. Malah berulangkali kami menemukan jalan buntu alias jalur yang tiba tiba tertutup. Bolak balik kami mencoba menemukan jalur yang benar namun tak kunjung kami temui. Di tengah keputus asaan kami, dalam perjalanan kami bertemu dengan seorang penduduk sekitar yang sedang beristirahat dari berkegiatan mengambil hasil hutan berupa dedaunan yang aku juga tak tahu digunakan untuk apa nantinya oleh penduduk tersebut. Kami pun menanyakan arah kemana kami harus berjalan, karena penduduk lokal seperti yang kami temui tersebut pastilah hapal benar daerah ini. Setelah ditunjukkan ke arah mana seharusnya kami berjalan disertai patokan jalan berupa tanda jalan yang harus kami temui jika ingin sampai di tujuan kami berikutnya, kami pun dengan semangat kembali melanjutkan perjalanan kami. Meskipun tidak semudah seperti yang diceritakan oleh penduduk lokal tadi, akhirnya kami bisa juga mencari jalur menuju gunung tangkuban perahu. Kira kira setengah jam perjalanan dari ketika kami bertemu dengan penduduk lokal tadi, kami sampai di bawah pelataran pos gunung tangkuban perahu. Kami langsung istirahat sejenak sambil kembali membuka peralatan memasak kami untuk memasak mie dan tentu saja membuat minuman pemersatu para petualang, ya, bikin racikan air kopi. Beres kami menikmati masakan mie yang kami buat, sambil menikmati kopi di gelas kami masing masing pleus ngisep udud si hejo kami kembali ngocoblak.
Pembicaraan siang itu tiba tiba saja mengarah kepada obrolan yang sangat sensitif, terlebih untuk seumuran kami pada saat ini. Ya, mendadak tanpa sadar kami berbicara mengenai pernikahan dan segala sesuatunya yang berhubungan dengannya. Mulai dari pertanyaan kapan masing masing dari kami untuk menikah, bagaimana persiapannya, dan bahkan hingga bagaimana nanti kami jika sudah menjadi seorang suami terlebih menjadi seorang ayah. Kami pun saling memberikan pandangan terhadap pertanyaan yang kami masing masing lontarkan. Dahsyat memang yang kami alami siang itu, kami buka bukaan tentang hal yang disebut pernikahan dan segala sesuatunya yang berhubungan dengannya. Semuanya dikupas dengan nalar yang kritis. Dan, ha ha ha ha, kalau dipikir pikir gaya bicara kami bak seorang konsultan pernikahan, busyet dah. Keluguan dan kepolosan kami terhadap hal yang belum terjadi pada diri masing masing dari kami namun tanpa sadar hal itu berada di depan mata kita dan mau tidak mau harus kita pikirkan dengan matang, membuat masing masing dari kami menghayal terlalu jauh, bebas teuing lah. Tak jarang kami tertawa terpingkal pingkal menyikapi permasalahan di seputar pertanyaan pertanyaan nakal kami tersebut. Namun dari pertanyaan pertanyaan nakal tersebut lah kami mendapatkan banyak hal yang asalnya masing masing dari kami tak pernah pikirkan. Hal hal sepele yang jika tidak dipikirtkan bagaimana pemecahannya bisa berbuntut rumah tangga menjadi tidak harmonis bahkan kandas di tengah jalan. Cita cita membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah pun hancur hanya karena masalah sepele. Tak jarang pula kami hanya terdiam membisu, entah karena sedang menganalisa apa yang baru masing masing kami utarakan atau entah karena masing masing dari kami tersadarkan bahwa permasalahan seputar pernikahan ternyata begitu kompleks bahkan amat sangat teramat rumit. Namun kami sepakat bahwa semua ketakutan yang masing masing kami wacanakan bukan untuk membuat kami mundur dalam menghadapi permasalahan tersebut, apalagi sampai berencana untuk tidak menikah, tentu saja tidak. Justru semua wacana gila kami tentang pernikahan malah membuat kami sadar betapa pentingnya memahami ilmu untuk membangun rumah tangga yang diridhoi olehNya, dan satu yang pasti kami pun sadar betapa kami begitu miskin dalam pemahaman akan ilmu tersebut. Mengingat begitu pentingnya hal tersebut, kami pun berikrar dalam hati masing masing, mulai saat ini kami akan memacu diri kami masing masing untuk belajar dan mencoba lebih memahami ilmu yang berkaitan dengan segala sesuatunya yang berhubungan dengan pernikahan. Dan tentu saja hal paling besar yang berhubungan dengan pernikahan adalah masalah pemahaman akan agama, itu sudah pasti.
Dari permasalahan seputar pernikahan kami lanjutkan membicarakan mengenai kematian. Brrrrr, ngeri memang tapi seperti yang sudah kukatakan obrolan ini memang obrolan yang sensitif, selain karena kami belum mengalaminya, juga sama halnya dengan pernikahan bahwa itu merupakan hal ghoib yang masing masing dari kami tidak bisa meramalkan dengan pasti kapan akan terjadi pada diri masing masing dari kami tapi pasti akan terjadi (maksud aing lamun modar mah pasti kajadianana tapi lamun kawin mah boa boa can kawin geus modar jadi bisa jadi kajadianana bisa henteu, kitu cenah mah, ulah salah tafsir nya, omat siah). Namun pada obrolan yang satu ini kami hanya bisa menganalisa dengan batas nalar kami sebagai manusia yang lemah dan bodoh, sehingga tentu saja terbatas dalam penegembangan wacana akan hal hal yang berkaitan dengan kematian tersebut (lain nanaon euy, ari ngomongkeun nu kieu mah kudu ati ati teu bisa sompral, heug modar pas ngomongkeun pan cilaka, emang sih lain ngan ngomongkeun nu kieu hungkul nu teu meunang sompral mah, tapi dasar jelema nya aya we nu diheureuykeun teh, ampun Ya Allah). Satu jam lebih sudah kami ngocoblak, tadinya kami ingin melanjutkan perjalanan menuju kawah gunung tangkuban perahu namun karena obrolan dadakan di luar skenario kami yang menyedot jatah istirahat menyebabkan kami mengurungkan niat kami untuk terus ke arah kawah malainkan turun pulang, dan tentu saja menggunakan jalur pendakian yang sama ketika kami berangkat tadi malam. Setelah membereskan peralatan memasak dan tidak lupa kembali memunguti sampah bekas bungkus makanan kami selama istirahat, kami lanjutkan perjalanan menuju pulang.
Sekitar pukul setengah tiga sore kami sampai di sumber air dekat puncak jayagiri atau beberapa meter setelah melewati warung abah. Kami memutuskan untuk menunaikan Shalat Dzuhur di sekitar sumber air tersebut. Memang agak telat tapi bukan berarti kami sengaja untuk menunda waktu untuk menunaikan Shalat Dzuhur mendekati waktu Shalat Ashar, karena kami berpikir bisa saja Shalat di tengah perjalanan turun tadi tapi masalahnya tidak ada sumber air yang dapat kami temui dan sepertinya satu satunya sumber air yang dapat kami temui ya yang di dekat warung abah (semoga Allah mengampuni kesalahan kami ini, Amin). Beres Shalat Dzuhur sambil menunggu tiba waktu Ashar, kami duduk bermalas malasan tak jauh dari tempat kami Shalat. Dan lagi lagi, bari ngobrol nya ngeunahna bari ngudud. Obrolan kami kini lebih edan lagi yaitu berbicara tentang bagaimana seharusnya menyikapi keadaan dunia saat sekarang yang serba semrawut, musibah dimana mana, dan masalah hidup yang semakin pelik. Ada kurang lebih satu jam kami berbicara tentang hal hal keduniawian, yang pada kesimpulannya dalam menjalani hidup ini tiada lain dan tiada bukan haruslah mengikuti aturan yang sudah Sang Pencipta buat yang termaktub dalam kitabNya yaitu Al Quran dan jika penjelasan Al Quran dirasa kurang mengena dalam mengatasi problema hidup ini maka Sunnah Rasulullah adalah solusi terakhir. Setelah beres menunaikan Shalat Ashar, kami bergegas melanjutkan perjalanan turun menuju pos pendakian. Kurang lebih pukul lima sore kami tiba di pos pendakian jayagiri. Setelah membuang kantong plastik berisi sampah bekas bungkus makanan selama pendakian ke tempat sampah yang disediakan dekat pos pendakian, kami melanjutkan perjalanan turun ke arah lembang. Tiba di lembang pukul lima lebih seperempat, kami langsung naik angkutan kota menuju terminal ledeng. Pukul setengah enam sore setibanya kami di terminal ledeng langsung kami sambung dengan menaiki bis kota terakhir menuju terminal leuwi panjang. Sampai di terminal leuwi panjang sudah pukul tujuh kurang seperempat, kami pun bergegas menuju rumah sahabatku yang memang tak jauh dari situ. Lagi lagi kami menunaikan Shalat fardu pada waktu hampir masuk waktu Shalat fardu berikutnya (ampun Ya Allah). Akhirnya pada pukul sepuluh malam aku pamitan untuk pulang ke rumahku sendiri.
***
Perjalanan singkat namun begitu berarti bagi kami dan terutama buatku tersebut telah menginspirasikan sesuatu. Keinginan mengulang kembali perjalanan tersebut bersama kedua sahabatku yang lainnya. Namun hingga detik ini aku terus dibayang bayangi oleh ketakutan yang selalu menjadi mitos bagi kita berempat yaitu hanya menjadi wacana saja.
tiga september dua nol nol tujuh
(Mocha)