Selamat Idul Fitri, Mata
maafkanlah aku
selama ini kurabunkan fitrahmu
memakaimu melihat yang hanya sekehendakku
Selamat Idul Fitri, Mulut
maafkanlah aku
selama ini kugagukan fitrahmu
menggeragas dan menyerapah apa saja seenak mauku
Selamat Idul Fitri, Tangan
maafkanlah aku
selama ini kutekuk-tekuk fitrahmu
menggenggam dan mengambil apa apa senyaman inginku
Selamat Idul Fitri, Perut
maafkanlah aku
selama ini kugiling-giling fitrahmu
memasukbenamkan apa saja yang nikmat buatku
Selamat Idul Fitri, Kaki
maafkanlah aku
selama ini kuinjak-injak fitrahmu
menyepak dan mengangkangi banyak kehadiran yang sebenarnya kau rindukan
Selamat Idul Fitri, Rambut
maafkanlah aku
selama ini kuguntingi fitrahmu
kujadikan mahkota dunia yang rapuh, ketombean, dan bercabang
Selamat Idul Fitri, Telinga
maafkanlah aku
selama ini kubisingi fitramu
kucucuki kamu dengan suara tak merdu
padahal kau tak nyaman dengan nada sumbang dan kasar, bukan?
Selamat Idul Fitri, Tubuh, Jiwa, Pikiran
maafkanlah aku
selama ini kuperkosa kamu semua tak henti
padahal kalian begitu baik—aku saja yang tak tahu diri, bukan?
1428 H
*) dengan ingatan terhadap sebuah sajak berjudul sama karya Mustofa Bisri
Postscript:
Semua dimaafkan. Maaf lahirbatih. Maafkan saya yang banyak lupa, lena, lelah, abai, ingkar, benci, marah, khilaf, (sok) sibuk-keren-cakep. Taqobalallahuminnawaminkum. Selamat Idulfitri :D